Essai Lamun by ; Hudan Hidayat

•Agustus 1, 2011 • 2 Komentar

Lamun


Menghabiskan ganasnya arah. Aku merapat menuju sepi merekareka keinginan yang tertahan rambu bahwa angin tak pernah bersepakat menghantarkan aroma kisah esok.

Di ujung malam. Wajah tegang tertutup cerutu pandangan kosong, nampak asap duka menarinari kuasai letih atas paruh usia yang masih bergumul ketiadaan. Mencumbui angan yang nyata pula kebiadabannya.

Menghabiskan ganasnya arah. Tubuh itu disentak kemustahilan membeli mentari dan menempatkannya lekatlekat di antara temaram, hingga cerutu itu nyaris membakar jari sebelum si jantan berkokok.


-Senayan; 28-07-2011-
JM



Essai HUHI

hidup jose adalah milik jose, seperti hidupku adalah milikku. seperti hidup kalian adalah milik kalian. tapi diam diam aku melihat gerak aneh dari kata kata itu: hidup memang milik kita, tapi bahasa, milik orang lain. milik dunia.

lihatlah kata arah di puisi jose yang muram tapi gagah berani ini – ia masuk ke dunia amorfatinya sendiri. ada putus asa di sana tapi ia tempuh juga keputusasaan yang diironikan dalam jalinan kata katanya yang penuh monolog personal itu. arah itu, bukan semata milik jose. hidup jose memang miliknya, tapi arah itu milik kita bersama. arah mana, kataku, berpikir kepada jose temanku, yang sedang memindahkan dirinya ke dalam puisi. sekali lagi, hidup jose memang milik jose, tapi lihatlah jose telah berbagi, telah membagi dirinya kepada aku dalam puisi itu.

kulihat aku di sana (aku jose yang pindah ke dalam puisi) dan aku mendekat ke aku di sana itu. aku melihat sebuah tualang, perjalanan panjang dengan arah yang tak berarah. menghabiskan ganasnya arah, katanya, sambil kubayangkan aku itu telah berjalan jauh sekali. bukan di arah yang tenang tapi di dunia yang penuh dengan gelombang, sehingga arah itu menjadi dunia ganas yang menelan dirinya. sehingga aku habis oleh arah itu. tapi lihatlah ia begitu berani mengatakannya, menghabiskan ganasnya arah, katanya, sambil kembali kubayangkan aku ini, aduh, aku itu, tidakkah aku dari aku diriku sendiri juga? (hidup memang milik jose, tapi bahasa milik kita bersama, bukan).

di manakah arah sepi itu? aku merapat menuju sepi, katanya. sambil dibawanya sepi dari sesudah ganas di tiap arah itu, ke angin yang tentu saja menggulung kembali sepi sebagai arah itu. lihat, kataku, arah sepi yang hendak dituju oleh aku ini, telah dimakan oleh angin itu. angin itu, jose, di manakah rumahnya? angin tak berumah seperti kau dalam puisi ini: tak berumah. ataukah rumahmu adalah rumah sepi? ataukah sepi itu sendiri adalah rumahmu dan rumahku juga? ada hari esok sebagai rumah kau dan aku. tapi hari esok yang diliputi oleh banyak tanda tanya. aku ingat sapardi, jose, yang berkata pelan pelan untuk dirinya sendiri dalam puisi. “barangkali kita tidak perlu tua dalam tanda tanya”, katanya. tapi kataku dan katamu dalam puisimu ini: barangkali kita memang harus tua dalam tanda tanya. lalu aku ingat lagi novel budi darma, olehnka yang masyhur itu. yang mengutip sajak donne tapi telah lupa konteksnya. hidup kita memang sialan ya, jose, sampai apa yang kita ingat pula pergi dari ingatan kita. seperti kutu donne tadi. ah, hidup ini indah tapi penuh sialan dalam diri kita sendiri, kata jose dalam puisinya ini. mana yang benar, entahlah mana yang benar. kau dan aku menulis saja, seperti tubuh kita sendiri ini: menuliskan saja kisahnya lewat puisi.

sebuah bait puisi telah kau tuliskan dan hasilnya adalah manusia menjadi tua dalam tanda tanya. tua dalam puisi dan tua dalam hidup nyata ini. tapi lihatlah semua orang menjadi tua, jose, bukan kau dan aku saja ternyata yang menjadi tua. semua orang bergerak ke rumah sepinya sendiri. aku ingat ibu dulu: makanlah di rumah jangan makan di rumah orang lain. ibu diam dan mengerlingkan mata indahnya, saat aku bertanya. dia tidak menjawab. saat aku hendak pergi ke sebuah sepi yang lain, di stasiun dekat pasar di kota kecil kami, air mata berlinang di mata ibuku. nak, katanya, ibu tak lagi bisa memasak makanan kamu. air mata kusambut dengan air mata, jose. sebab seperti kata caleste dalam novel camus itu: kita hanya memiliki seorang ibu. dan di sini kamu menyambut air mata dengan bahasa. hasilnya sama juga, air mata. air mata kata dan air mata dari suatu kata: titik air yang jatuh dari kelopak manusia. kau tak menangis, hanya bahasamu saja yang merintih pelan, yang kudengar dari rintihan jiwaku sendiri juga, jose. jose, kau dengarkah? kau di mana kini, jose?

judul puisimu adalah lamun, seperti aku yang kini melamunkan kisahmu dengan banyak arti dari lamun itu sendiri: tapi pun, iakah dia begitu? walau pun kau telah menuliskannya aku tetap juga meraba rabanya dengan tapi sebagai arti dari lamun pertama, yang kini bergerak menjadi lamun ke dua di bait dari baris baris puisimu yang menunjuntai cepat tak lagi ada jedanya. untuk apa, barangkali katamu, toh hidupku juga adalah hidup tanpa jeda. bukankah kau sedang mengarungi arah yang ganas, dan kini kau diam sejenak ke arah yang ganas yang lain. adalah sepi, sebuah keganasan hari yang kadang lebih kejam dari gelombang arah yang memental mental. sepi bisa kadang demikian mematikan, tapi kau penyair, dan kau tak mati karena sepi, sebab lihat sepi demi sepi dari ganasnya arah hari kau punguti. tekun memandangi pasir pasir dari hidup kita sendiri. kau seperti aku jose, yang memunguti sepi ke sepi juga. merekatkannya ke dalam bahasa. menjadi puisi seperti puisi sepimu yang ganas dan mematikan ini. tapi aneh: aku hidup justru dari membaca sepi seperti ini.

puisi berlatar waktu juga: malam. sepi tak kuasa berdiri sendirian, tanpa latarnya – dunia. dunia malam sebagai rumah sepi yang paling sunyi. detak jantung kita sendiri pun, dalam sepi seperti itu, seolah takut memperdengarkan suaranya. dia diam dan penuh misteri terus menerus memompakan darah ke sekujur kita. dia tak berkata tapi darah terus dialirkannya ke segenap tubuh kita, yang kelak menghabiskan darah itu ke dalam bahasa juga. bahasa sepi dari hidup yang sepi. bahasa sepi dari hidup yang penuh darah dalam diri. kau tahu, jose? ah aku yakin kau tahu apa maksudku. kita – kau dan aku, sama sama pemuja sepi dan pasti mengenal sepi dari bahasa yang tak terucapkan seperti kau yang menuliskannya dalam puisi ini. sepi hendak meminta propertinya, karena ia kini keluar dari dalam badan, tak lagi tahan berendam dalam badan. dalam diri yang seperti kata chairil: sepi memagut. (hendak masuk ke ending esai)


Hudan Hidayat

Klik untuk Puisi LAMUN

Iklan

YANG DIALPHAKAN

•Juli 31, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar












dari bibir
kita pernah meneguk kecup
mengembangkan kuncup rindu
fasih berucap, gigil merasuk tandu
yang kosong dan buntu
hingga lidah itu menjelma belati

pada mata
kita meminjam pandang
yang dibias alir alur pesona
di tepian senja merona
kerling cahaya haus mengeja
di pelupuk bayangan direnggut lena

saat rasa hati
kita berkisah kenangan
atas aroma sepi, sedusedan
bibir mengaduh, mata beradu
tubuh mengucap apa yang tersimpan
dari titipan yang dialphakan

dalam kelam sehitam malam, resah sempat kita desah…




_________________
Jakarta; 01-08-2011
Josephine M

LAMUN

•Juli 31, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

: Lamun



















Menghabiskan ganasnya arah. Aku merapat menuju sepi merekareka keinginan yang tertahan rambu bahwa angin tak pernah bersepakat menghantarkan aroma kisah esok, apakah masih bersedia meminang gairah setelah malam iitu dihempas keletihan memungut suatu persinggahan?

Di ujung malam. Wajah tegang tertutup cerutu pandangan kosong, nampak asap duka menarinari kuasai letih atas paruh usia yang masih bergumul ketiadaan mencumbui angan yang nyata pula kebiadabannya tenggelam begitu saja sebelum menuju tikungan.

Masih menghabiskan ganasnya arah. Kita pun disentak kemustahilan membeli mentari dan menempatkannya lekatlekat di antara temaram. Dan ujung cerutu itu pun nyaris membakar jari sebelum lamun kau rampungkan dan melipat dalam kantong kumal tubuhmu.




————————————-
-Jakarta; 28-07-2011-
JOsephine M

.

•Juli 8, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar




.

malam membuka diri

menelan bayang di rembang petang

molek bergoyang dengan jubah hitam

ada yang datang menantang

umbar dingin hambar merangsang

berkelebatan suram mendedah resah

pawai tubuhtubuh lenguh mencari

cemas meluruh ruang menyisip hening

menggenapi aurat yang telah tergurat

aku mengada dengan tubuh telanjang

membaca diri sebelum kata bersemayam

setelah sekian jerit dan udara berbau sangit

aku dan kau mencacah aib

lewat udara, akankah raib?



———————————-
Jakarta, 31-05-2011
Josephine M

Selingkuh

•Juli 8, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Selingkuh
















pikiran berlainan kelamin itu hambar
berangkai rasa takjub mudah memudar
dari balik kutang dan celana dalam
terarsir buram
terbentuk kelam
mengusik tubuhtubuh perawan logika

tepatnya kita pecundang biologis
adalah telanjang sekedar strategis
penanda pengubah kecemasan yang miris
rasa dari balik kutang dan celana dalam
terarsir buram
terbentuk kelam
dalam bacin serapah tentang harapan

gaun tipis malam habis dikupas
terburai lepas
menjadi tersangka penafsiran moral
begitu tak layak dikenang sakral
bahwa kelamin penyebab perselingkuhan



————————————
Jakarta, 20-05-2011
Josephine M

Mulut Kecil dan Besar

•Juli 8, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Mulut Kecil dan Besar

mulut kecil itu hanya sedikit berkalimat

menyudut antara mulut besar yang lihai berkilat

menahan nafas menatap lahannya di gagahi

dipagar angkaangka menjelaskan birahi 

‘kau kelabui pesona malam saat aku sanggup menggagahi birahi dan meruahkan pundimu atas nama pajak’

mulut kecil menjadi pengingat, bahwa ia sebagian penyumpal mulut besar.




——————————
Jakarta, 18-05-2011
Josephine M

Apa Kabarmu, Waktu?

•Juli 8, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar


apa kabarmu, waktu?
geliatmu gemulai menjejak binal. berputar, meliuk, merancang arah. membuatku terjaga dalam musim yang jalang sekehendaknya datang dan pergi.

apa kabarmu, waktu?
desah nafasmu menyusup kelangkang hingga liangliang kelamin.
habis. detak hariku kau lumat tanpa sapa batas hingga gairahku terbata ratap menatap punggungmu menggores kenang. dan di depan, kau tenang melipat rapat kabar itu misteri.

dan kini
aku diketuk sibuk, menekuk dalam waktu dengan suara sengau parau tak terkendali menjajarkan detak waktu yang kian dikebiri peradaban.

apa kabarmu, waktu?

masih terbata mengeja rindu



———————————-
Jakarta,15-04-2011
Josephine M