AKU DI DUA KOTA

Aku di Dua Kota

Sudut kota meruncing.
Di tengah padang batu. Celana dalam, kutang dan kelamin berebut teduh. Langit menanti musim, memukul angin karena ruang geraknya penuh sampah. Bau sperma, bau bangkai, bau batu bata yang dibakar. Kau lupa cara menutup kelaminmu sendiri saat menatap tangis tak urung melembabkan kota. Kota tua diam menyudut. Ramping meliuk disetubuhi angin. Ke arah Barat atau Timur? Sedangkan Selatan dan Utara persetan dengan tradisi. Sementara celana dalam, kutang dan kelamin kian gencar menimbun kota. Langit masih galau memukul angin. Memihak musim.

Suara sumbang tuan kota.
‘Angkat rok minimu,’ sumbang pun nyaring melihat betis diigiring angin.‘ikuti perintahku, kita buat kotak kotamu berpagar kata sandi…’ suara dari kolong tempat tidur samping selimut sejajar lubang angin. Gelapnya tanpa pintu terekam segala peristiwa dengan nama dan segenap peran. Kepala tanpa mata, lidah dan telinga. Tubuh tanpa tangan dan kaki. Ragu tak nampak, selimut itu pun yang mengubur tangan dan kaki tuan. Mata, lidah dan telinga terlipat dalam celana dan kutang. Akhirnya menggali lubang sendiri. Dikenang tugu dengan tanggal keramat.

Aku ada di dua kota. Sebelum senja dan sebelum di sini. Biarlah hingga pada batas tepi. Menyudut. Ke arah Barat atau Timur.



Josephine Maria
Jakarta; 18.03.2012

~ oleh ranahaksara pada Maret 19, 2012.

2 Tanggapan to “AKU DI DUA KOTA”

  1. I Like mb Jose…. ditunggu karya karya selanjutnya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: