LAMUN

: Lamun



















Menghabiskan ganasnya arah. Aku merapat menuju sepi merekareka keinginan yang tertahan rambu bahwa angin tak pernah bersepakat menghantarkan aroma kisah esok, apakah masih bersedia meminang gairah setelah malam iitu dihempas keletihan memungut suatu persinggahan?

Di ujung malam. Wajah tegang tertutup cerutu pandangan kosong, nampak asap duka menarinari kuasai letih atas paruh usia yang masih bergumul ketiadaan mencumbui angan yang nyata pula kebiadabannya tenggelam begitu saja sebelum menuju tikungan.

Masih menghabiskan ganasnya arah. Kita pun disentak kemustahilan membeli mentari dan menempatkannya lekatlekat di antara temaram. Dan ujung cerutu itu pun nyaris membakar jari sebelum lamun kau rampungkan dan melipat dalam kantong kumal tubuhmu.




————————————-
-Jakarta; 28-07-2011-
JOsephine M

~ oleh ranahaksara pada Juli 31, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: