Wabah Sampah




















kata telanjang bertebaran menghantam tubuh gontai dari masa lalu yang menyaksikan seonggok warnawarni sampah di trotoar liar. bergerak diam, keluar dari lubang dubur tuan puan pemilik kota. wabah kata nyatakan sumpah yang sengaja dieluk nyinyir oleh orangorang dalam gedung. menjadikannya idiot. lumpuh di atas tanah sendiri. menjadikannya anomali. mengemis di atas bilik sendiri. mejadikannya debu. mengasap atas pembakaran akta. hilang… hilang… ya sudahlah! menjelma taik, kotorankotoran menghilir ketepian sudutsudut jantung jalang.

pada sepotong usia sejarah tak lagi mengharum dari masa lalu. sanasini  bangkai undangundang membusuk. dibusukan oleh bangkai tikus pengerat lumbung. yang pernah menawarkan dada dan pundak membidang bintang. bintang yang dipungutnya saat mendung menyerang malam. cahaya malam yang memancar gemetar ditusuk kawat duri yang dililit wabah sumpah. menjadikannya anekdot. membias kolongkolong penyair jalanan. agung bergaung di puncak. hilang… hilang… ya sudahlah! menjelma kutukan yang menerban tubuhtubuh suri di balik gedunggedung maut.

dan sejak pagi hingga malam, remahremah sumpah itu hanyalah nisbi di suatu persinggahan waktu. seperti ramburambu jalanan, pelacur dan jembatan penyebrangan.



—————————————–
-Jakarta; 03-02-2011-
JM

~ oleh ranahaksara pada Februari 3, 2011.

4 Tanggapan to “Wabah Sampah”

  1. Kok bisa nyusun kalimat-kalimat seelok itu, mbak ini makan apa ya??

  2. kao emang wanita penerus bangsa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: