Mengurut Kalut

: tanpa makna

Perjalanan tanpa tanda baca menjadikan kerumitan suatu kisah.
Pada akhirnya jangkauan kita memiliki batas. Batas persinggahan keinginan yang goyah karena alpha kita tulis dan sebutkan. Maksud mengarung jalanan tanpa bekas jejak. Mungkin melawan arah. Melabrak kaidah. Melampau garis perkiraan. Sementara waktu terus memburu. Menegaskan kecaman yang tak mengindahkan menunggu. Padahal ruang tunggu teramat sesak lamurkan arah menuju ingin. Dengan memanggang cemas. Tubuh kita nyata ringkih sentakansentakan dendam yang membutuhkan kedaulatan. Kedaulatan atas waktu pertemuan. Yang menegaskan ruang rindu yang bersahaja. Mengikarkan percintaan yang absurd. Atas kecupan yang bertubitubi. Memancing daya hasrat dengan tubuh telanjang mengupayakan siasat antara aku dan kau sebatas ranjang. Menuju klimaks menuntaskan kepuasan sesaat. Bukan sesat, karena di awal kita telah di hadapkan pada peringatan. Lalu mengapa kita gentar mencatat ulang rekaman kisah? Ketika silang arah singgah untuk segera kita tanggap meletakkan tanda baca.




————————————-
-Jakarta; 08-12-2010-
JM

~ oleh ranahaksara pada Desember 25, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: