Wajah Kota yang Terjajah [sajak ngacak]


wajah kota yang terjajah


Pengelana malam gagahi dingin yang kesepian sepanjang loronglorong rawan keremangan kota. Betapa tak risau berjubel merenteng birahi, pelintasannya selalu sumringah merebak tutur pikat pada sesiapa pun. Padahal, wajah kota tak pernah akrab mengurai damai. Berkalikali menorehkan imitasi dan intimidasi. Selalu merenggut selaput perawan. Mengheningkan derik ranjang pengantin. Mengguratkan kealphaan. Bahkan sanggup mengerat nafas karena ingkar. Alangkah berat dan gamang memalingkan langkah saat hasrat terpancang sumringah hawahawa birahi di mana lorong kerawannan terbentang menjelma nyata untuk gegas dijamah. Disetubuhi. Memaknai hidup betapa yakin bahwa penghuni kota luruh makhlukmakhluk pemuja tubuh.

Aku lupa, kapan kalipertama berjumpa para pengelana itu. Mengagumi sisi kelam yang nyatanya bertebaran bintang bukan binatang, umpatan manusia begitu tegangan telah longgar terlampiaskan. Mereka menyulam isak di sudutsudut kota yang dikata dosa menjadikannya suatu harapan. Dan masih menawarkan ruang bila lain waktu kembali bertandang. Menemui si pengelana malam.

memagut wajah kota yang terjajah riak geliat pemuja tubuh

lorong senyap yang tak pernah legang
dari jingkatan kaki yang disergap ingkar
kupukupu malam yang bersayap binar

mengendap di antara bayangan pemikat
pinang sanjung diolah bekap belikat
saling sadap, membelit rayuan liar

silang wajah tak lekang masa riuh tubuh
terus bergulir tumpangtindih hidup redup
rentan berserikat obralan nikmat senggama

aku mengagumi sisi ruang jalang malam
wajahwajah binal setianya menguruk sampah kota
begitu lihainya menebar bintang di sudut kota itu

pada waktu di suatu persinggahan
kakikaki lentik berjuntai menawan
meriung seruangan sudut malam kota

gemulai decak bahasa tubuh diburai
memadati kepulan asap yang kosong
begitu nikmatnya kau jilat hingga terkulai

kau yang kian candu menelisik malam
tersimpuh malumalu menahan nafsu
meregang janji kota yang nyata palsu

di sampingmu aku nyinyir meratap
terjepitnya kau di sela kelangkang
yang dulu pernah kau sanggah lantaran jalang

malam kota yang binal



————————————
-Jakarta; 19-11-2010-
JM

~ oleh ranahaksara pada November 20, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: