Kenang Bayang [sajak ngacak]

Di pelataran ketika malam kian mengendapkan bayangbayang. Kala orangorang telah merebahkan tubuh dalam bentangan mimpi atau alunan dengkur atau bersenggama. Aku memandang lurus pematang waktu lalu. Sengaja menembusi lorong waktu meleburkan cerita silam. Kisah bocah yang kini terpenggal peradaban tertunduk pada perubahan dan waktu. Yang berulang kali dalam senyap memanggilku untuk mengenangnya.

Aku tak ingin hanya sekedar membayang. Selalu menuju. Bukan pelintasan sepi begitu luka menggauliku. Selintas lalu menghilang. Mengepaknya dalam peti mati dan menguburkannya tanpa nisan. Terpaksa melupakannya dalam kesementaraan tanpa diterjemahkan. Sikap yang acuh diburu waktu membuatku tersengal mengeja tubuh. Karena aku sadar suatu ketimpangan tak akan teraibaikan. Yaitu riwayatnya tubuh menuju sosialisasi. Berkembiakbiak

Aku ingin mengenang masa silam tanpa ada tenggang yang menggurat sesal. Sebenarbenarnya rindu pulang untuk mengentaskan dongeng dari bibir pengeja doa hariku. Sambil meruparupa wajah berhati syahdu yang kasihnya sepanjang jalan itu. Proses kenangku begitu mudah daripada memburai kerumitan rentetan nyata masa kembaraku. Jlimet. Keruh. Yang kerap berada dalam suatu keentahan. Kemustahilan. Aku sedang mengenangmu ibu. Luruh. Walau dengan memeluk angin ibaratkan tubuhmu merasuk kisah tentang arah pulang.


aku ingin mengenangmu
yang sebenarbenarnya bukan semu
melalui anak cahaya malam saat menjilat waktu

aku ingin mengenangmu
seperti hari yang di awali cerita pagi
awal proses keberadaan rahim ada diri

aku ingin mengenangmu
selayaknya tubuh memiliki riwayat
atas asalusul dan silsilah yang telah tersurat

ingin sekali mengenangmu ibu
seraya menerawang tentang ulah bocah
agar bisa sama seperti mereka bertutur kisah

ingin sekali mengenangmu ibu
yang memang data tubuhmu samar keruh
dari dongeng mulut yang simpang siur mengaduh

ingin sekali mengenangmu ibu
agar kembaraku dapat berkisah ulang
mengentasnya menjadi bekal menuju pulang

aku ingin mengenangmu
lebih dekat walau hanya sekelebat bayang
dan mengentasnya dari kekeruhan agar mudah diburai

aku masih ingin mengenangmu ibu, tanpa batas ruang dan waktu



———————————–
-Jakarta; 17-11-2010-
JM

~ oleh ranahaksara pada November 17, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: