Reruntuk Suntuk [sajak ngacak]

Tak pernah diketahui langkah kita kemudian. Kekalutan acapkali hadir di setiap persimpangan, sebagai penanda tubuh akan rambu yang memadat silang arah. Lalu kita sekedar merekareka khayal atas kehendak sendiri. Kau di barat aku di timur. Terpental dinding keinginan yang selalu berbeda. Atas rasa. Atas hasrat. Atas mimpi. Akankah bisa sama kita remas satu menjadikannya sebuah kubah suaka kita?

Kau pun tahu ramburambu kota tak selamanya seru. Risau lalulalang di persimpangan membuat kokoh tegak tiang bangunan merapuh miring.Kulit pun kisut keriput di lalui masa usia tubuh. Acuan terlepas dari rangkainnya semburat polusikan ruang udara. Membuat bising dan sesak kutukan kata. Lintasan waktu yang karam dalam catatan perjalanan itu akhirnya menjadi sampah yang siap dibakar kenangan.

Persimpangan binal adalah landasan kita membuang rasa cemas. Perselingkuhan menumbuhkan gairah baru.

aku berada di persimpangan arah
hiruk pikuk kalut kemelut
sinyal rambu menyendat mandat

menyerah bukan mengalah
terantuk pasrah berserah
ketika acuan terlepas dari rangkanya
yang semburat kian mengerat tubuh

di persimpangan
kelokan tajam mengerling binal
tubuh pun berpaling mengaling kekalutan

melawan arah, kalut kutanggalkan di persimpangan



————————————-
-Jakarta; 16-11-2010-
JM

~ oleh ranahaksara pada November 16, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: