Candu


















ruang kembaraku hanyalah sepi
peletakan resah ketika menepi
yang aku curi dari tungkai hari
ketika waktu telah kau kebiri

aku biarkan jendela malam terbuka
ada angin memadat jangat gigilkan rasa
dengan tebaran debu akan cerita silam
menghias kaca jendela semakin buram

secangkir kopi kerap tersaji malam
mengendapkan rasa pekat birahi jalang
yang kau teguk manja saat kita berintim
candukan hasrat sebatas atas lapisan ranjang

tersesat antara belukar khayal
hindari onak caci di ujung lidah
biarlah keluh melipat tanya
yang sungsang oleh sebuah rasa

kelak ku bekap kembali rasa itu
dan sengaja ku tuli bisu atas ketukan pintu



——————————
-Jakarta;15112010-
JM



nb; menanggapi salah satu puisi sahabatku. Julia Napitupulu
komentar selengkapnya, klik Being DEAF (untuk myDearly Friend & Sist Josephine Maria)

~ oleh ranahaksara pada November 16, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: