yang Mengendap Kedap

Apa kabarmu rindu? Masihkah di tempat kau berasal dengan roda goda sapa pikat sanding pujian? Atau kini beralih ruang seperti musim yang tumpang tindih datang dan pergi tanpa permisi menggurat palung tanya tanpa kesan pesan. Karena kini aku menyusur keberadaanmu, yang pernah melesap cecap di tiap lekuk tubuh kau kulum marum manja. Pada tiap putaran jam bukti penanda waktu ruang temu kita. Pada tiap tikungan jalan yang pernah kita bersitegang silang arah. Atau pada bibir ranjang yang kerap kita jadikan pelampiasan amuk sibuk ketegangan itu. Semua itu ternyata tak bisa menunjuk keberadaanmu lagi.

Apa kabarmu rindu? Apa rasamu masih seperti awal ada debar jika akan ada temu? Atau telah berubah kabar hambar karena seringnya kau cicip rasa lain membuat lidahmu keluh kebal mengucap sejatinya cita cinta. Semua sama rasa. Karena kini aku sedang mengulang dengan khayal bagaimana rasamu kali pertama bibir berpagut raut. Pada tiap putaran jam ada detak rasa untuk candu temu. Pada tiap persimpangan kita genggam jemari luruhkan desah resah. Dan hingga pada lapisan atas ranjang kita bergelinjang ruahkan nafas puas menuju klimaks. Kembali semua itu tak bisa cetuskan ulang rasamu itu.

Apa kabarmu rindu? Semoga keberadaan dan rasamu masih seperti awal. Tak angkuh berlalu menyeruak antara bising dan hening menyela di sela kesempatan menepiku.


Apa kabar rasa?

Kau serasa madu tercecap manis
kentalnya melekat di langitlangit

Kau laksana cahaya sekejap melindap
menyusup ruangan tersekat pekat

Kau serupa deretan tangga nada
berirama merdu kidungkan pujian

Kau seperti bara menyengat jangat
sengaja di sulut kejutkan diam

Kau bagai pencuri yang mengendap silap
tak mengenal waktu kandang tandang

Bagaimana rasa?
Jika bisa mencair, redam, lalu ku matikan agar rasa itu abadi



: dari rindu aku belajar ciptakan rasa yang sempat sirna dibawa musim. dari rindu aku mulai menyergap waktu yang pongahnya berlalu tanpa jeda memberi ruang temu. dari rindu aku kian menghargai segala sesuatu yang tibatiba hadir walau tanpa permisi. dan dari rindu pula aku menjaga, mendekap dan menempatkan rasa selaik mungkin jauhkan dari tajamnya lidah..




———————————–
-Jakarta; 09-11-2010-
JM



beberapa tanggapan dari para sahabatku;

Helena Adriany;
aku telah belajar untuk menepiskan rindu yang sesekali menyusup diantara detak arloji. menggelitik syaraf dengan rangkaian ingatan bak
koran pagi yang seperti biasa tak membawa berita apapun s…elain headline basi nubuatan palsu para redaksi.

aku telah belajar untuk tak menanti dalam rindu yang kerap memalsukan fakta ketika aku begitu jatuh cinta terhadap dilema ruang berisi fatamorgana yang tak pernah berusaha menyempatkan reinkarnasi dalam realitas yang paling sederhana

aku telah belajar untuk tak mempertahankan rindu. melemparkannya ke awan dan memandangnya jatuh sembarangan. karena aku tak pernah tahu apa yang membuatnya kedaluarsa dan berubah menjadi racun yang mengacaukan ingatan.

maka ketika kau berulang menuliskan apa kabar rindu, maka aku memaknainya sebagai retorika darimu yang bahkan kaupun tak pernah mengharapkan jawabannya selain di headline basi, fatamorgana ingatan dan derai hujan yang jatuh sembarangan.

hehe semoga kau tak keseringan begadang agar tak harus demam dan mengigau tentang sebuah rindu yang telah mati terbunuh oleh ketajaman lidah :))

Adrian Kelana
Rindu tumbuhi semua pori pori darah yang mengalir membuncah resah namun dalam rindu ada sebekas cahaya penyemangat akan sua walau waktu tak mau memberi setetes rahasianya kini bias kunisankan rindu ditanah merah mudamu agar aku tak lagi men…anti diruang yang tak menentu ini.
Waduh aku terbawa arusmu joes .salam yang sangat rindu

Giyanto Subagio
Yang Mengendap Kedap, judul adalah anak kunci untuk memasuki rumah puisi. rasa rindu pada sepotongan kenangan memang sangat menyakitkan, sebab jarum jam tidak berjalan mundur. cinta selalu indah dibunyikan dalam puisi. erotika dalam estetika mengkristal seperti batu mulia. Jo, puisi yang berbunyi akan selalu berdentum dan bergema.

Josephine Maria
masGiyanto : yup..aku ingin membuat racuh pada judul dengan berima. dan biasanya puisi memang bertutur tak lepas dari estetika. tapi aku mau sebaliknya..erotika tanpa estetika.. heheh.. yo opo mas, melanggar kaidahkah jika itu inginku dalam penulisanku kini?? maturnuwun mas.. salam takzimku selalu..

Giyanto Subagio
licencia puitica adalah hak setiap penyair. setiap penyair punya kredo atau hukum dalam penciptaan puisinya. kredo puisi adalah sebuah konsep. sah-sah saja jika harus menabrak tradisi estetika, sebab setiap penyair punya wilayah pengucapan sendiri. hehehe… salam tabikku untuk karya-karyamu, Jo…

Josephine Maria
masGiyanto : tak urung jua atas kritik tulisan ini agar membuatku lebih bebenah lagi. dan sekat2 berkarya memang kurang aku kuasai karena aku ingin bebas berkarya tanpa belenggu. jangan bosen2 yo mas membantu sela tulisanku jika ada yang mengganjal.. maturnuwun mas.. salam santunku..

Awan Hitam
‎”Apa kabarmu rindu?
Semoga keberadaan dan rasamu masih seperti awal. Tak angkuh berlalu menyeruak antara bising dan hening menyela di sela kesempatan menepiku”

Kerinduan yang menyelimuti diri dan diungkapkan sengan rajutan tulisan yang benar… benar menggambarkan suasan hatinya. Apakah rindu selalu menggelisahkan ataukah selalu ingin menjaga moment kerinduan selalu sehingga bara kehadiran dan pijar cinta tetap menyala🙂

“Bagaimana rasa?
Jika bisa mencair, redam, lalu ku matikan agar rasa itu abadi”

Begitulah rasa itu dan ingin mengenangnya secara abadi dalam jiwa

Mudahan ada selalu kesempatan menepi seperti tulisan ini harapkan.

Salam hanagt mba Josephine🙂

Josephine Maria
masAwan : dengan rindu itu tibatiba rasaku yang sempat suri hadir lagi di sela nafas ini..rindu temu selalu agar mengusangkan sendiriku.. maturnuwun mas atas ulasannya.. semoga sehat dan sukses tuk masFuad sek. amin
salam hangatku pula mas. …GBU


::lebih lengkapnya klik;

~ oleh ranahaksara pada November 9, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: