Roda Goda Ranjang [sajak ngacak]


roda goda ranjang

Selalu tubuh yang mempengaruhi arah hidup untuk akhir suatu solusi permasalahan. Dengan suara dan gerak yang tak asing. Bahasa tubuh. Bukan keganjilan karena upaya saling menggenapi ketimpangan. Bukan pula biadab. Karena ini bukan pemerkosaan sepi. Sepinya lingkupan tubuh yang merambat di kesendirian merajam dahaga hasrat. Kerling. Desahan. Pagutan hingga persetubuhan liar bukan keganjalan yang sengaja diciptakan, tapi merupakan suatu pilihan nyata tak bisa terelakkan. Waktu yang congkak berhamburan tak pernah memberi kesempatan manis kedua. Selalu mendesak tubuh segera gegas beranjak. Seperti kala bibir kita saling terpaut. Saling kecup. Memberi tanda bahwa akan ada episode baru. Hanya bagaimana kita menempatkan tubuh diri pada koloni yang tepat. Saling menguntungkan.

Aku penggoda dan kau perayu. Kita adalah siluman ranjang yang kerap menuntaskan tautan beralaskan setan. Simple atau naif. Tak perlu munafik. Jika kemudian kita menjadi candu. Candu menyingkap dan mengulum sampah sendiri.Telah tertata deretan rencana bagaimana menghadapi gelombang nyata kehidupan. Mengorbankan etika dan moral. Kita bercinta tidak dengan keikhlasan. Menanggalkan pakaian menuju ranjang dengan batas waktu. Saling melumat berburu puncak nafas. Ada penuntutan. Timbalbalik. Karena tubuh pun telah menjadi komuditas. Tak ada negosiasi jarak dan waktu ketika libido tibatiba menghentak kelam memaksa masuk ruang sela perselingkuhan. Lalu kita mulai memintal jalinan tanpa status untuk kelanjutan nasib hidup.

Baiknya usah lagi bertutur tabu bila kau pun ada dalam komunitas ini.


aku menantimu di bibir ranjang
di mana akan tersaji lugas birahi
yang barangkali sering di gagahi
usah lagi kita berlama mengulur waktu
berdalih acuh mengacung tinggikan bahasa tabu
aku dan kau sudah cukup paham akan arti ranjang itu

aku masih menantimu di bibir ranjang
dengan segala kenikmatan aku tawarkan
dengan segala kebinalan aku gemulaikan
bijak  kita luruhkan tubuh telanjang
tiada lagi yang patut dipertahankan
untuk ditapik atau disembunyikan

dan kini,
aku menantimu pasrah terlentang


————————————
-Jakarta; 03-11-2010-
JM

~ oleh ranahaksara pada November 2, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: