Ibu O… Ibu [seklumit rumit alkisah]

Ibu Sang Mucikari

“surga ada di bawah telapak kakinya”

Kasih ibu sepanjang jalan. Kasih anak sepanjang galah. Pepatah warisan tak lekakng oleh peradaban. Ibu adalah sosok yang melahirkan kelangsungan kehidupan. Panutan teladan bagi anak, airmata dan doa adalah nafas buah hatinya. Wajar jika sakit hati dan kekecewaannya bisa menjadi kutukan tanpa sesal untuk kehidupan kelak. Segala daya upaya ia pertaruhkan demi kelangsungan hidup. Kesabaran dan ketegarannyalah yang selalu dijadikan pedoman. Saya juga seorang Ibu, pernah merasakan mengandung dan melahirkan.
Ada petaruhan nyawa – antara hidup dan mati.

Lalu.. bagaimana dengan sosok Ibu yang layak dan pantas dikatakan sebagai seorang Ibu. Walau ia telah melahirkan dan membesarkan para buah hatinya dari mengandung, menyusui dan merawatnya. Lalu ia juga harus berjuang meneruskan tanggung jawab yang terlantarkan sepihak dengan mengkomersilkan tubuh agar tetap berlangsung kebutuhan rumahtangga. Agar anak-anaknya pun dapat memperoleh dan merasakan kebahagiaan penghidupan yang layak seperti impian anak pada umumnya.

Ini hanya sepenggal kisah kehidupan yang mungkin dan memang terjadi dan ada disekitar kita. Dan kisah ini nyata adanya.

****
****

Diana namanya. Putri jelita kedua dari tiga bersaudara. Pesona indo berkulit kuning langsat berpostur tinggi semampai. Makhlum, ayahnya keturunan Jerman dan ibunya asli pribumi. Kakak sulungnya bernama Luci menjadi wanita simpanan. Sedangkan adik bungsunya laki-laki bernama Rudi yang masih sekolah menengah atas. Ayahnya stres dan agak linglung setelah beliau diPHK dari perusahannya karena pengurangan tenaga kerja dan kini hanya berdiam di rumah dengan membersihkan pekarangan atau bebenah isi rumah. Sedangkan ibunya sebelum dinikahi ayah adalah seorang mucikari untuk wanita-wanita penghibur pengusaha dan pejabat elite. Hidup yang serba berkecukupan lamat-laun menyusut setelah ayah tidak bekerja lagi yang kala itu putra-putrinya masih sekolah dan membutuhkan biaya lebih. Sudah lima tahun terakhir ini setelah ayah menganggur. Lima tahun itu pula, ibu kembali bergelut ke masa silam.

****

Diana mengemas lekas beberapa pakaian serta lengkapan bepergian ke dalam koper, hari ini ia akan terbang ke Semarang bersama ibu selama seminggu untuk menemui dan menemani seorang pengusaha tua kenalan ibunya sendiri. Baju seperlunya, biasanya ia akan berbelanja lagi. Diana selalu menerima panggilan keluar kota, antar pulau bahkan hingga luar negeri. Namun ia tak pernah berangkat sendiri. Ibunya yang selalu mendampingi.

Setelah pamit pada seluruh penghuni rumah, mereka pun berangkat menuju bandara dengan menggunakan taxi.

Entah bagaimana berawal perasaan kasih seorang ibu menghilang atau sungsang hingga tega menjual atau mengkomersialkan tubuh putri-putrinya sendiri kepada para kenalannya yang sebagian besar adalah para pejabat. Demi kelangsunga kebutuhan rumah tangga, ibu mengambil peran – kembali berpetualang – tak tanggung-tanggung modal jual tertuju kepada kedua putrinya. Ayah kian lemah dan mengalah tiada kuasa melarang atau bertindak tegas lagi karena keterbatasannya kini. Sebagai seorang kepala rumah tangga, sosok kepemimpinannya telah hilang dan tak dianggap sejak beliau sudah tidak bekerja lagi. Gemilang beranjak buram. Harapan patah arang. Sedang hidup di pacu waktu tanpa kenal kompromi dan negosiasi. Pengeluaran akan kebutuhan kian melambung. Pemasukan bulanan tiada lagi. Pesangon ayah pun mulai menipis.

Dihubunginya kembali relasi-relasi lama ibu sambil menawarkan putri-putrinya. Ibu juga yang senantiasa mengantar dan menanti hingga selesai dan pulang. Nampak, kaka Luci dan Diana tak keberatan menolak atau berontak atas pola laku ketidakwajaran yang tak pantas dari sosok ibu. Mereka menjalankan dengan senang hati tanpa beban. Entah amuk isi hati. Karena imbalan yang akan mereka peroleh berlimpah ruah melebihi kala ayah masih bekerja. Apapun keinginan, impian dan segala hasrat dapat segera terwujud.

Diana menjadi wanita panggilan sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, kegadiasannya ditawarkan sang ibu kepada bandot tua dengan imbalan rumah dan sebuah mobil merzedes. Sedangkan kaka Luci disiapkan ibunya untuk orang-orang asing yang bekerja di Indonesia secara kontrak waktu tertentu minimal satu tahun. Dengan begini kebutuhan hidup terpenuhi lagi, hinggai bisa menempatii rumah di komplek perumahan elite. Yang dulu tak memiliki kendaraan pribadi, kini sanggup membelii lebih dari satu mobil. Yang dulu jarang berbelanja di mall kini bisa shopping hingga mall negara tetangga walaupun itu hanya sekedar duduk-duduk di kafetaria. Hidup yang kembali berkecukupan karena dengan mudah mendapatkannya membuat pendidikan Luci dan Diana menjadi terbengkalai. Hanya Rudi yang masih terus melanjutkan bangku sekolahnya. Kedua kakak perempuannya ingin Rudi menyelesaikan hingga bangku kuliah. Biarlah kedua kakaknya putus sekolah asal Rudi tidak. Karena ia seorang lelaki, kelak menjadi tanggung-jawab keluarga.

“Amit-amit tuh ibu, kok tega ngejual anaknya sendiri apa gak takut karma atau hukuman ? kasihan juga anaknya, sayang cantik-cantik tapi disalahgunakan…,”

“Buahkan gak bakal jauh jatuhnya dari pohon, pastilah kelakuan ibu anak sama aja…,”

“Namanya juga germo, ampe kapanpun ya tetap germo.. tanpa pandang bulu anak kandung sendiri juga jadi…,”

“Pantes aja, ayahnya tambah stres, niatnya diangkat dari sampah jalanan, e..malah sekarang anak kandung jadi korban.”

Beberapa kata cibiran, sumpah, guncingan, sindiran bahkan sumpah dan kutukan dari para tetangga untuk kelakuan ibu itu. Luci dan Diana tak mengacuhkannya. Masuk telinga kiri keluar telinga kanan.

“Bodo amat apa kata mereka, emangnya kalo kita lapar dan kesusahan, mereka akan terus membantu? Mulut orang bisanya mencela tapi tak pernah koreksi diri…”

“Dosa menjadi tanggung-jawab masing-masing pribadi, ngapain sok suci?” Timpal Diana, jika ia mendengar bisik-bisik para tetangganya.

Tarif mereka memang sangat mahal hingga sang ibu pun tidak sembarangan menjual dan menawarkan kedua putrinya pada pria hidung belang. Ibunya pun tak menempatkan kedua putrinya pada kafe atau karaoke yang menjamur di kota metropolitan, karena tak ingin anaknya seperti barang murah penghibur pasar malam seperti diskotik atau pub yang terpajang dan bebas tertontonkan oleh siapa saja. Mereka cukup di rumah tinggal menunggu panggilan via telepon. Itupun terbatas untuk kalangan pengusaha ternama relasi lama ibu.

****

Telah seminggu.
Diana dan ibu telah kembali dari Semarang. Dengan beberapa koper dan oleh-oleh untuk seisi rumah. Semua tanpa terkecuali mendapatkannya. Biasanya setelah menemani tamu, Diana akan pergi berlibur menikmati hasil jerih payahnya. Dan ibu pun akan memending bookingan untuk beberapa minggu ke depan.

****

Keesokkan harinya.
Seperti biasa setelah menikmati makan siang, mereka berkumpul asyik bercengkrama di ruang keluarga. Ada ayah, kaka Luci, Diana dan Rudi. Sedangkan ibu pamit pergi berbelanja dengan menggunakan angkot yang melintas di depan komplek perumahan. Hari ini tumben dan tidak seperti biasanya ibu pergi sendiri ke pasar dan tak ingin diantar oleh salah satu anak-anaknya dengan menggunakan mobil pribadi malah menggunakan angkutan umum yang kebetulan jarak pasar dari rumah tidak begitu jauh.

Di sela keasyikan itu, tiba-tiba mereka dikejutkan dering telepon dari rumah sakit yang mengabarkan kondisi ibu yang telah meninggal dunia. Bagai tersambar petir di siang bolong. Padahal waktu itu hanya berselang tiga puluh menit dari pamitnya ibu pergi ke pasar hingga ada berita kematiannya kini. Spontan pecah tangis tak percaya dari ketiga anak-anaknya sedangkan ayah hanya duduk diam di sofa menatap ke bawah keramik lantai dengan pandangan kosong. Tanpa banyak tanya dan isak lagi, mereka segera menuju ke alamat rumah sakit tersebut untuk mengetahui lebih lanjut kebenaran berita kematian ibu.

****

Ibu sang mucikari dari kedua putrinya itu jatuh tergilas ban angkot yang ia tumpangi.

Kala itu ibu duduk di bangku papan pas di depan pintu angkot -maaf – tubuh ibu sangatlah gemuk. Mungkin tak tahan gerah, beliau duduk depan pintu. Padahal penumpang baru ada tiga orang dan tempat duduk pun masih kelihatan lapang. Tawaran duduk dan himbauan kerawannan sang sopir tak membuat ibu beranjak. Ia tetap memilih duduk di bangku kecil depan pintu. Angkot melaju susuri jalur bahu jalan raya, perlahan-lahan akhirnya kencang. Tanpa sepengetahuan sopir ada genangan lobang berbatu – kaget – sang sopir mengerem dadak lajunya angkot untuk menghindari aral jalan. Angkot pun tersedak kedepan dan oleng ke samping kiri membuat keseimbangan tubuh gemuk ibu hilang. Belum sempat berpegangan, sisi bangku terjungkit. Walhasil, tubuh ibu terpental keluar pintu. Jatuh dan digilas ban belakang angkot. Kepala ibu pecah dan meninggal di tempat sebelum sempat dibawa ke rumah sakit.

Tiba di rumah sakit.
Butir kristal tak tertahan lagi saat berita itu benar adanya. Luci dan Diana histeris setelah melihat dengan mata kepala, bahwa benar, tubuh membujur kaku dengan kepala pecah yang hampir tak di kenal wajahnya adalah ibu kandung mereka.
Setelah menyelesaikan segala administrasi rumah sakit, mayat ibu baru dibawa pulang.

****

Tenda dan para pelayat.
Para pelayat silih berganti berdatangan memberi ucapan belasungkawa. Guncingan tetap terdengar di antara rasa iba para ibu.

“Lihat tuh, pasti karmanya datang juga.”

“Gak ada hujan, gak ada badai, gak ada firasat. e… tau taunya meninggal jatuh dari angkot.”

“Kasihan juga ya? Lihat tuh anak-anaknya, apalagi Diana. Karena dia sangat dekat sama ibunya.”

Bla..bla…dan bla..bla.. Dari sekian bisik-bisik pelayat yang sebagian adalah tetangga kompleks perumahan itu.

Setelah tubuh mayat ibu disucikan oleh salah satu pemuka agama, Luci selaku anak tertua mewakili keluarga memohon maaf atas dosa laku dan kata ibu selama hidup dan doa untuk almarhumah agar dimudah lapangkan kuburnya.

Sedangkan Diana tak hentinya menangis, matanya sembab, tubuhnya lemas dan sempat beberapa kali tak sadarkan diri. Syok.

“Ibu begitu cepat kau pergi…,”

“Padahal minggu depan kita akan berlibur, kita belanja dan jalan-jalan. Ibu…,” isak lirih Diana.

Di pemakaman.
Diana berusaha kuat walau sedikit sempoyongan dipapah beberapa tetangganya, menatap lekat tubuh berbalut kafan yang mulai dikeluarkan dari keranda mayat dan diletakkan di samping bibir liang yang menganga. Rumah keabadian ibu berikutnya. Semoga beliau dimudahkan jalannya. Bisik Diana.

“Secepat ini kau pergi dengan cara yang mustahil, secepat ini… Lalu mengapa, bila ini memang terjadi mengapa dulu kau tega menjual kami putri-putrimu, ibu…,” Suara protes Diana berkali-kali mengiringi mayat ibu yang perlahan masuk ke liang kubur.

Di samping Diana ada Ayah, kaka Luci dan Rudi hanya tertunduk isak diam memandang dalam liang yang kian lama membenamkan tubuh ibu hingga menjadi segunduk tanah merah bernisan nama Ny. Sumiati binti Saipulah Hidayat.

****
****

Sepertinya teguran dariNYA, sangat keras tiada ampun dan tak terelakkan lagi. Hanya berselang tigapuluh menit saat masih sehat dalam kebersamaan. WaktuNYA sangat misterius, bagai pencuri yang mengendap lindap di kegelapan. Siap atau tidak, jika IA berkehendak, siapa dan bagaimanapun kuasa duniawi tak akan mampu mengalahkan kuasa atasNYA. Sang pemilik segala isi tubuh manusia dan bumi.

Ibu juga seorang manusia yang memiliki keterbatasan atas salah dan khilaf. Berusaha mencukupi kebutuhan keluarga dengan segala apa yang pernah ia miliki dan jalankan sebelumnya. Hidup bukan untuk disesali atau diratap larut. Hidup adalah pilihan. Pilihan bagaimana untuk mencapai kebahagiaan. Kesempurnaan setara makhluk lain untuk tetap dan terus hidup.

Waktu yang ada baiknya dipergunakannya sebaik mungkin jika kita mengetahui bahwa itu salah maka gegaslah menuju pintu sadar dan tobat sebelum kekuasaanNYA yang tiba-tiba datang mengambil tanpa ampun mengelak.

Tak ada kata terlambat jika kita mau berusaha dan niat untuk merubah keadaan atas ijinNYA. Mungkin ini yang tak bisa kita terima mengapa kok seorang Ibu? mengapa? kembali lagi… Ia juga seorang manusia.



————————————
-Jakarta; 20-12-2009-
JM



komentar selengkapnya. klik Ibu O.. Ibu

~ oleh ranahaksara pada November 1, 2010.

2 Tanggapan to “Ibu O… Ibu [seklumit rumit alkisah]”

  1. visit jasa-baru.blogspot.com y

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: