Lalu Berlalu

Kita selalu mencoba terus mencari karena ketidakpuasan diri. Rakus. Maruk. Sengaja berusaha membangkitkan suasana suka di atas lara. Tanggap kian terkikis ego menimbun angkuh ketidakpedulian. Mereka. Benarkah peletakan dirinya di atas. Ketika berjuang atas nurani bersama demi amanat. Sepintas lalu, kini beredar pongah. Purapura menuli, bahkan buta atas keterpurukan. Berlalu. Masingmasing memburu maksud yang tersembunyi. Maksud apa sebenarnya mereka untuk di atas. Berusaha memanipulasi kesempatan kepapahan.

Mereka sudah lupa letak otak sebenarnya. Detak jantungnya pun berdetak atas bilangan angka. Organ hidup sengaja dibuatnya mati. Mereka itu mayat hidup. Purapura hidup padahal mati. Mati hati. Mati rasa. Mati kepedulian. Mati untuk segala naluri kemanusiaan. Curutcurut yang membuat carutmarut dengan sumpahbasi yang telah kian membelatungi tiap regenerasi. Jika begitu merekalah yang harus dibenam hiduphidup.

Kita mencatat dengan melarik mantra sambil menghela panjang di tiap nafas atas ketimpangan keadilan. Rasa kian getir melintir sukma. Mungkin alam pun diamdiam merekam gerakgeriknya menimbun dalam senyap keheningan perut bumi. Ketika mereka tak lekas tanggap atas derik derita maka alamlah yang akan menanggapinya.




———————————–
-Jakarta; 31-10-2010-
JM

~ oleh ranahaksara pada Oktober 31, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: