Membaca Jim B Aditya – Sang Saka




















antara duka dan cita perhelatan itu. aku bacakan salah satu sajak karya Jim B Aditya ini diiringi suling dan klontengan oleh mas Yayok Apfd atas permintaan Opung Saut P. Tambunan saat ultah Kedailalang yang Pertama 23 Oktober 2010
























Sang Saka
Oleh; Jim B Aditya

(sajak buat bung ilyas karim*)


di mana sang saka yang dulu pernah kulangitkan, bung
yang tariannya sanggup menggelorakan udara di atas nusantara
yang kibarnya mampu melamurpandang jutaan pasang mata
yang geletarnya telah melunasi semua piutang darah dan jiwa
aku ingin memeluknya sekali lagi sebelum waktuku sampai

dulu merahnya kami celup dari darah para pahlawan
putihnya dari airmata dan doa para pendiri bangsa
dan tepinya kami jahit dengan serpihan tulang dada

di mana kau simpan sang dwi warna itu, bung
karena tak kutemui lagi dia di bendera yang biasa kalian kibarkan
di rumahmu di kantor kementerian atau di laman istana merdeka
merah putihmu kini berkibar angkuh sebagai lambang kekuasaan
lupakah kau bahwa kami mengibarkannya untuk kemerdekaan

dan apa yang kalian ketahui tentang cita-cita kemerdekaan
buah yang seharusnya dapat dinikmati oleh seluruh anak bangsa
kekayaan negara yang seharusnya untuk kesejahteraan bersama
bukan segelintir orang yang berlindung di balik lambang merah putih

dulu merahnya kami celup dari darah para pahlawan
putihnya dari airmata dan doa para pendiri bangsa
dan tepinya kami jahit dengan serpihan tulang dada

masihkah kalian pidatoi kami tetang cara menghormatinya
ketika tahu kamilah tangan sejarah yang melahirkannya
kini, kembalikan sang saka yang dulu pernah kulangitkan, bung
aku ingin memeluknya sekali lagi sebelum waktuku sampai


101021
———

* Ilyas Karim, adalah pelaku sejarah. Dialah pengibar pertama Sang Saka Merah Putih, pada tangga 17 Agustus 1945.
Pria asal Padang, 82 tahun ini selayaknya ikut menikmati buah kemerdekaan. Namun kini dia hidup di rumah sederhana di pinggir rel kereta api kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.
Rumah berukuran 50 meter persegi ini konon akan segera digusur oleh Gubernur DKI Fauzi Bowo. Dan di bekas lokasinya akan dibangun rumah susun yang pelaksanannya akan dikerjakan Menko Kesra Abu Rizal Bakrie.

(Puisi ini pesanan sahabatku Boyke Ambo Setiawan – SuaraRakyat untuk dihadiahkan kepada Bapak Ilyas Karim)

: antara geram dan airmata berbenturan, membuatku sedikit serak.. hiks. beliau boleh terabaikan oleh sejarah tapi bukan oleh anak negeri sendiri.

thanks u bang Jim.. salam santunku


Puisi dan komentar selengkapnya dapat diklik di;
Sang Saka

~ oleh ranahaksara pada Oktober 24, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: