Lelaki yang Menabuh Kian Aksara Tanpa Jeda


: Gieb


Seorang lelaki sedang menimbun rindu di urukan aksara. Mengukir sepi sepanjang pulang tanpa jeda tanpa alinea vocal tertata bersanding konsonan. Begitu cadas tak ingin bebal ingatan menterjemahkan perjalanan cinta tanpa malu meluap deras daratkan pendaman hasrat.

Jarak waktu dijaring tanpa pukat hanya buku dan seikat bunga berseling runtutan bait puisi kisahkan segala riuh gundah tubuh yang diacakacak rindu menggempur kisah yang nyaris beku. Di halte. Ia cairkan dengan serangkain tunggu.

Bersama angin peradaban. Ia mengikis batu selekuk tubuh ramping yang di tiap sudut merapat kecupan jadi saksi kasih seperti kota tua yang menyimpan kisah sejarah. Selalu meratap harap tak dicampakkan karena ia sedang mabuk kepayang dalam olengan kasmaran yang tak sesederhana baginya meninggalkan dingin malam pada embun pagi atau mengendapkan kelam pada ampas kopi atau bergulir lepas seperti musim yang telah saling tumpang tindih atau pasang surut seperti air lautan atau menghilang kandas bayangan.

Lelah terlelap di ranjang tak urungkan niat golak desahannya terbaca sajak di tiap helaian rambut ramping tubuh indah itu yang sanggup menghardik petir bilakah memberi jeda ruang temu.

Aku hanya bisa terpaku atas gejolak biru rasa yang berbukubuku belum puas tertuntaskan entah hingga kapan.

Luruh ku membaca tubuh lelaki itu.



———————————–
-Jakarta; 15-10-2010-
JM,

~ oleh ranahaksara pada Oktober 15, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: