telah aku sempurnakan engkau menjadi heningku, mematung pada palung bibirmu yang membekas di sebuah sepi

Oleh; Harri Gieb
13 Oktober 2010

: ny

aku ingin menuliskanmu sebagai langit
dengan awan abu-abu yang menggantung
memberi teduh kepada pohon-pohon di depan rumahmu itu
aku rindu merasakan hujan di pelataran rumahmu
melihatmu menggandeng ksatria kecilmu itu
membayangkan bahwa hari itu adalah
hari dimana waktu menjadi beku

aku ingin menuliskanmu sebagai hujan
dengan rintik yang berkejaran di kulitmu
aku rindu menyentuh kulit halusmu itu
memegang wajahmu di antara lampu malam
menyusur gelisah karena ada jarak
yang meminta kamu kembali

aku ingin menuliskanmu sebagai malam
dengan cahaya kunang-kunang yang
memahatkan kenangan akan sebuah pertemuan
kapan kita bisa bercakap lagi
sambil memuntahkan tubuh
yang penat dengan keputusan-keputusan

aku ingin menuliskanmu sebagai embun
dengan pucuk daun yang basah mengingatkan
bahwa pagi ini aku akan menyapa wajahmu lagi
meski hanya dengan kata
inilah kebahagiaan yang aku cari yang
selama ini ternyata bersembunyi di balik tanganmu

aku ingin menuliskanmu sebagai biru
dengan kelopak bunga yang mekar ketika kamu sentuh
memimpikan sebuah rumah dengan
telaga luas di belakangnya
tempat kita menerjemahkan asmara
menjadi pohon-pohon rindang dan secangkir kopi
—-

Josephine Maria

begitu banyak ingin keinginan yang hendak kau tuliskan sebagai ungkapan rasa..

begitulah Gieb..

coba merentangkan kekarutan
dengan melukis segala
serupa rindumu
kau tarik menuju titik
penanda yang menjadi saksi
kala tubuh bersitatap
tanpa meregang
kala cerita berawal
jadikan sejarah
kala kata pada noktah
kukuhkan jalinan

kini
kau terpenjara rindu
dengan kunci aksaraaksara
berimaji olah bahasa
di antara sela jeruji kaku
nanar bebayang tubuh
liar khayal lantang berseru
‘ada rindu’

kita bisa terpaku
atas gejolak biru
rasa yang berbukubuku
belum puas tertuntaskan
entah hingga kapan

byuuuuuhh..huuuufffzzzzzzz..isi otakku bercecer Giieebb..
thanks u bro. salam. GBU

Helena Adriany

/1/ ketika kau undang kunang-kunangku

aku melukiskanmu sebagai cahaya kalbu
…kerlip api kecil memberi daya pada peredaran
pada semestaku yang dipenuhi insting, postulat, logika dan rasio
pada gairahku yang tak pernah terpuaskan akan jagad raya
pada sejarah yang membekukan malam dan menciutkan waktu

/2/ketika kau rangkul pepohon dan awan abu-abuku

aku melukiskanmu sebagai gunung berapi
diam menyimpan elemen api juga kekayaan
bagi pohonan pengetahuan yang tak pernah berhenti tumbuh
dan menyediakan awan dilerengnya menjelma hujan
kita selalu menemukan yang baru di kota tua dengan buku usang

/3/ ketika engkau menjunjung langit dan ksatria kecilku

aku melukiskanmu sebagai akar rotan
liat dalam hakekatmu sebagai selatan yang hening
ketabahan mengadaptasi informasi yang berloncatan
bersekutu dengan utara yang tak pernah berhenti
yang dengan teguh kau terima sebagai penyeimbang

/4/ ketika engkau mendatangkan hujan dan kegelisahanku

aku melukiskanmu sebagai tornado selatan
seteru dalam dirimu yang tak pernah mati
kesendirian yang menyerap energi di keluasan
yang mampu mendatangkan nyeri dan penderitaan
sampai kau membentur langkisau yang menghantammu dari utara

/5/ketika engkau menghadirkan malam, embun dan biruku

aku melukiskanmu sebagai air terjun
keindahan yang menyimpan kekuatan
yang terbelenggu tubir riam dan tepian sungai
ilusi jiwa yang kau jelmakan di persendian dan tungkai
mengisyaratkan kemerdekaan dalam pasungan

/6/ ketika engkau merindukan telaga luas dan secangkir kopiku

aku melukiskanmu sebagai kematian
peristirahatan yang ingin diraih dalam kesempurnaan
perjuangan panjang di bawah matahari
aku kembali merindukan senandung wedhatama
mengiringi serangkaian tunggu yang mengalir diantara jemari

~ oleh ranahaksara pada Oktober 14, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: