agar tak tersesat jika suatu hari nanti kita membangunkan matahari dan bercermin di telaga yang menyimpan air mata masa lalu

Oleh; Harri Gieb

: ny

kita lama tak bicara tentang kita
apakah karena masing-masing dari
kita memilih sunyi
“kita bukan kesepian, sayang”
ucapmu suatu kali
sebab kita memang dengan
sengaja memilih sunyi
entah karena alasan apa dan
untuk apa sunyi itu kemudian
sepertinya melalui sunyi
kedirian kita bisa menjadi penuh utuh
tak ada yang mampu mengusik
pun aku. pun kamu

demikianlah kita kemudian
memilih sunyi di sudut kota tua
berteman beton dan bayang diri
mencoba mengekalkan sunyi pada
sebuah kamera digital tanpa memori
semua berkubang dalam
gelak tawa dan senyum

kemudian kita berjalan
menyusuri pematang kota tua itu
dengan terik tak tertahankan
peluh seperti lengket tak berbekas
keringat membeku menjadi kristal
perasaan-perasaan yang
menggagas maknanya sendiri
berkelahi melawan senyum
aku tak tahu harus memberi
pertanyaan apa sejak kau
putuskan untuk tidak menjawab
aku hanya punya senyum dan
beberapa lembar uang puluhan
tak cukup untuk menyewa sebuah
taksi untuk mengantarkan
kita ke keheningan
tapi aku tahu
kau tak mempermasalahkan itu
“aku hanya lelah,”
ucapmu suatu kali ketika kita sudah
menemu waktu dan buku
dan tentu saja secangkir kopi

pertemuan kali ini sepertinya
tanpa banyak genggaman
sepertinya kita tak nyaman
dengan keadaan
mungkin ada yang kau pikirkan
yang aku tak tahu
tapi aku mencatat beberapa
momen yang membekas di hatiku
aku suka sekali saat pagi buta
kita sudah ada di taksi
saat kita harus memaklumi
jarak sebagai ujung
kau menggenggamku
erat dan penuh niat
aku seperti lelaki
aku juga suka ketika kau
kalungkan tanganmu ke lenganku
seperti kau melimpahkan
semua keselamatanmu padaku
aku suka dengan tugas itu

aku merasa semakin akrab
dengan sosokmu
bahkan bau mulutmu pun aku ingat
apalagi bau tubuhmu
aku semakin lihai
membaca bahasa tubuhmu
saat kau lepas. saat kau bertahan
saat kau tak nyaman. saat kau kosong
aku kadang melihatmu lekat
mencoba menghapal guratmu
di setiap lekuk dan sudut
mencoba masuk ke dalam penuh-penuh
agar tak tersesat jika suatu hari nanti
kita membangunkan matahari
dan bercermin di telaga yang
menyimpan air mata masa lalu
——

Helena Adriany

kita selalu memetakan sunyi bahkan
saat kita merambah di keriuhan
kau yang malang melintang dalam gelisah
seakan begitu nyaman memelihara diam
namun kita tak pernah kesepian
bahkan cenderung selalu lupa menyediakan
tempat bagi kehampaan

ah, kita yang seringkali begitu
egois terhadap kesunyian,
tak pernah hilaf mengumpulkan
literasi yang menguntit perjalanan
demi perjalanan yang semakin
mempersempit setiap ruang tunggu, bahkan
kita memaknai waktu tanpa batasan yang lazim

kita telah menemukannya, linuwih
sebuah kota tua dengan buku-buku yang berserak
dan pengetahuan ajaib di setiap pintunya yang
selalu terbuka bagi masa depan kita yang
selalu haus akan diksi, mungkin aku harus
mulai bersabar terhadapmu yang mulai melambat
mengejar matahari kita

sementara aku tak pernah memiliki
kesabaran untuk menunggumu bangun dari mimpi
dan mengurasi kantung-kantung bajumu
yang mulai lubang disana sini
aku selalu lupa mengingatkanmu
bahwa kita punya uncang-uncang yang
menanti untuk kita isi

aku sedang belajar memaknai bahasa
tubuhmu yang tak karuan dan membingungkan
maka aku membutuhkan lebih banyak sepi

Pratiwi Setyaningrum

jendela taksi meredam
bayangmu yang menjauh
dan perlahan berbalik
menuju ujungmu sendiri
dengung mesin taksi menghilang
digantikan ngiang yang teduh
seperti kukatakan padamu
ini bukan kesepian
namun sekedar pencarian
yang telah usang
lalu melambung aku
kembali di kota tua
melangkah disebelahmu

tak banyak pengunjung
hanya mata pedagang
berbinar penuh harap
dan tiga burung gereja
bertukar hinggap
di ukir dinding tua
dan suara pasir terinjak
berderak berirama

kuamati langkahku
kaki kiriku sibuk mengejar
kaki kanannya yang
bergerak dalam diam
kadang bersinggungan
bertukar tenaga
aku penyuka kiri namun
perindu kanan
aku suka engkau yang kiri
seperti aku haus
setiap kananmu
membuatku merasa utuh
dan penuh
disetiap perjumpaan

langit sore tak terlihat
mega pucat
memunggungi satu sama lain
sibuk njelumat hari
menyambut kepulanganku
dua ekor kucing saling
jilat bulu di atas teras tua
mata keduanya terpejam
penuh syukur
seperti aku

Penjejak Ilham

kerling yang kita tukar
bayang kita, sejenak diam
tafakur dalam lenguh
sebisanya kita bersikukuh
meski rindu hujat meronta
seperti kanan
hendak memagut kiri

riuh saja di sekitar
kelebat angin tak sabar
tak kita perdulikan
sebab kita dalam khusyuk
meramu sunyi menjadi hening
menjadikan gelak bergolak
dalam rintih, yang sepi
seperti maumu

sampai kita tiba
pada derit ranjang lelah
pencapaian segala entah
yang tak bisa kita hapal
atau lukis pun secara abstrak
ini tentang imaji kita yang liar
dramatis sedikit melankolis
yang kelak kita lipat
di bawah kulit yang lepuh
usai gumul di usai shubuh

seperti maunya kita…

Josephine Maria

aku merasa semakin akrab
dengan sosokmu
bahkan bau mulutmu pun aku ingat
apalagi bau tubuhmu
aku semakin lihai
membaca bahasa tubuhmu
saat kau lepas. saat kau bertahan
saat kau tak nyaman. saat kau kosong
aku kadang melihatmu lekat
mencoba menghapal guratmu
di setiap lekuk dan sudut
mencoba masuk ke dalam penuh-penuh
agar tak tersesat jika suatu hari nanti
kita membangunkan matahari
dan bercermin di telaga yang
menyimpan air mata masa lalu

sebuah perjalanan panjang ya Gieb?
kita tak pernak terkecoh atas gerak tubuh, guratan lekuk isyarat alami. sanggup kita menyelam hingga lubuk yang dalam kian aku mengenal sejatinya diri ada. aku membacamu dan kau membacaku. kita sama saling membaca. kita ada…

dan kian menguat tanya, seperti sosok lain yang bukan kukenal sebelumnya. magnet itu begitu kuat..tibatiba badai menyapaku di terik siang. aku menikmatinya..hohoho

ya..persahabatan ini telah kita maklumatkan sebelumnya pada olah tubuh masing2. thanks u Gieb tuk berbagi. GBU

~ oleh ranahaksara pada Oktober 14, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: