Makhluk Helena Tubuh Gieb Bayangan John Puisiku [Jengah]

Jengah





















Pernah aku mengutuk waktu
atas congkaknya ketika melaju
merampas terang di tiap tikungan
menyisakan redup
tanpa ampun,
tak di biarkannya aku berkedip
jengah, muak,
diam ku dikejutkan angin
membisik lubang telingaku
katanya;
masih ada makhluk lain
yang akan kau temuin di jalan’

Aku letakkan lembaran soal
dikte segala caci umpatan
pada sudut ruangan pengap
membaur kotoran anjing
kencing kucing, dan
riak ludahku
tak ingin ku bakar
biarkan jadi santapan lalat
kita berbagi nafas
memompa detak yang lemah
berdiri tegak sedikit megap
dan aku berlalu

Di suatu persimpangan
padat, langkahku terseret
mencari arah yang tepat
sekeliling rupa peduli iblis
sedang bersitegang
coba genapi keganjilan
ada bayang
tenang melukis mimpi
di atas kain hitam, tanpa pena
hanya sapuan angin waktu
di situ,
aku menikmati bayangan hidup



———————————–
-Jakarta; 09-10-2010-
JM



beberapa koment sahabat2ku ;

Helena Adriany:
pagi yang bingung mengantar kegalauan manusia
\memantul dari langit di tempatku yang mendung
kala dini hari ditempatmu masih menitiskan gerimis
yang tak pernah peduli pada awan yang mulai lelah
diujung pagi yang masih tergulung sepi
saat aku mencari arah gelombangmu yang tak pernah pasti
engkau yang pernah kutemukan di ujung bulu mata

aku yang angin tak pernah punya jawaban
tentang embun yang begitu sibuk menata penciptaan
mengapa dini hari menipiskannya dan mengangkat dari tanah
mengapa fajar mengubahnya menjadi bulir yang menempel di daun
mengapa siang menggiring angin dan menerbangkannya ke awan
mengapa senja mengajaknya berlarian bersama gerimis
mengapa malam mengajarinya mengaliri sungai menuju samudera

aku yang angin tak pernah berhenti membaca jejak
tentang kehidupan yang kaya persimpangan
tidak ada keputusan yang salah saat tidak ada pilihan
hanya kita sering berhenti terlalu lama diketidakpastian
lupa, bahwa kita tak akan kehilangan kegagalan
sebagaimana kita akan selalu menjumpai keberhasilan
di tikungan-tikungan yang tak pernah kita harapkan

seperti saat aku menemuimu di ujung bulu mata

Josephine Maria:
masih dalam gelombang
terombangambing
ngambang
…blang

dan..
merasa seluruh isi tubuh
merontah
ingin muntah

Dwi Klik Santosa:
bayangan hidup itu tidak seasin keringat sendiri. begitu yang saya rasakan … hmm … tapi dari bayangan kadang saya malah lebih mendekat dan mampu merasai asin keringat itu .

Josephine Maria:
kita sering melalaikan bayang/kenangan buram menganggapnya kutukan padahal ia adalah guru bijak ya mas??

Cepi Sabre:
muntah-muntah. morning sickness. hehehe …

persimpangan memang sisi jalan yang paling rumit. kiri, kanan, atau terus. gieb, helena, atau john. biasanya, di setiap persimpangan, aku berhenti. minum es cendol. hehehe …

Penjejak Ilham:
sungguh bayangan menjadi sebenar-benarnya bayang yang kita mendapatkan keasyikan dan kenyamanan sempurna…

Ardi Nugroho:
gimana pagi ini..
bayangan hidup masih ternikmati?

aku mendesah dengan bibir setengah basah..

lalu,
kemana saja kau semalam
warna dan aroma pakaianmu begitu biru

aku mencoba menetralisir gemuruh hati

ach… sudahlah,
kau istirahat yang cukup..
nanti malam kita masak nanyian rindu kita
di penggorengan cinta

—-
Mbak Jose Mbak Jose…
kunikmati sajakmu, sampai sampai aku terbawa ruhnya menuju pantai laut itu..

John Ferry Sihotang:
Adalah api yang tiba-tiba padam membuat kami tak hirau tubuh yang ringkih di sebuah tikungan. Kami harus melakukan penghancuran bisu dengan motif perubahan. Karena itu, ketaksengajaan bukanlah pengabaian tanpa alasan. Kami sibuk mengumpul…kan kayu, batu, dan entah demi sebuah percik. Lalu memantrainya menjadi kreasi, sebagai cara terbaik menikmati detak jaman yang membisu di ujung kutub. Kau pun sudah tau, mesti ada gelombang dan angin untuk mengibas daun-daun jadah, mendandani kabut anggun, atau sekadar mendamaikan kesepian yang ungu. Dan, kami sadar, kejamakan lebih kokoh dari ketunggalan. Karena itu, apapun kami lakukan. Bila perlu, ombak yang pudar kami hempaskan, agar tubuh yang kenyal bagai babal berhenti memunguti tanda tanya ke dalam keranjang teks kolosal. Rupa-rupanya, mencoba berhitung bijak dalam prediksi masih lebih baik dari pada membatu di seberang sungai. Tanpa memutlakkan nilai-nilai, agar stabilitas tak semu. Begitulah kami. Tak sekalipun mengkhianati eksistensi busur dan lintang di garis katulistiwa. Dari situ aku belajar, Jose. Bahwa tawar-menawar tak harus merusak harga diri. Karena kami mencari maka kami mendapat. Karena kami mengetuk maka pintu dibukakan. Begitulah cara kami melemparkan kekarutan dalam tungku kontradiksi. Agar menyublim menjadi jelaga otentisitas. Dalam kebersamaan.

Josephine Maria:
masih berusaha memcahkan batu menjadi kerikil agar jelas kemelut, tuntaskan menjadi pasir dan bermakna tuk bersama..ah John, bayanganmu memang harus ada jika menghilang maka ku cari tubuh makhluk itu.. Thanks u Johnku..masih kusimpan botol chiva tukmu..glek!! Hahaha. Gbu

~ oleh ranahaksara pada Oktober 8, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: