Operet Getir, part 410[Kisah Cinta Marbuth – Joezefhine Zejoe]

Operet Getir, part 410 (kisah cinta marbuth – joezephine zejoe)
Oleh; Marbuth Sastragila alias Abu Aviccena Alfarabi alias Heru Sylvanata



josephine maria, adalah sebuah nama indah dari sekian ratus nama yang pernah singgah dan mengisi kekosongan di hati marbut. marbut pun lupa entah dari mana dan sejak kapan dia mulai menyukai joez, begitu dia memanggilnya, apakah dari indah bola matanya, dari manis bibir dan senyumnya, dari tahi lalatnya, atau dari pepuisinya, semuanya indah di diri joez.

yang jelas, awalnya marbut hanya suka saja, ya suka, tanpa embel embel cinta atau apalah gitu. namun setelah membaca puisi puisi joez yang sexy, ada semacam rasa gimanaa gituu. apakah ini cinta juga, aku hampir tak bisa mendefinisikannya, gumam marbut. yang jelas pepuisinya membuat desir laju darah marbut, lalu bergolak, dan kemudian serasa mau meledak ..

aku adalah tubuh malam
rangkaian pelepasan aksi
ucap laku di ujung waktu
membuatnya lindang landai

aku adalah tubuh malam
luapan liur cemohan mulut
kau lupakan lidah
yang bisa menjilat ludah

tubuhku menyungsang mimpi
yang kau titipkan atas kegagalanku
kandung dan merawatnya
lahirkan bekal di pagi, kau menjelang

aku kalamkari malam
mataku tak memincing hingga kau terjaga
melindap di antara semak
menyergap liar tubuh malamku


auu .. sedaaap ..
gumam marbut, sambil tangannya membetulkan celananya yang mulai terasa sesak ..

ku poles rupa ayu sayu agar menawan
dengan bedak bertabur subur pengasih

ku larik tarik gincu merah di bibir
warna merona pemikat merekat kata

ku jepit apit melintik bulu mata
hitam menebal baal pesona yang lain

ku basuh ramu jamu kelangkang paha
agar rapat tak ingin lekas terlepas

semuanya ku dapat dari balik lereng gunung
agar arah tatapan tak berpaling miring
yang niscaya kau percaya tiap ujar lakuku

kini ku berlenggak-lenggok mendekati mu
yang kerap melalang jalang liang kelam
pemuja tubuh penabuh desah

ku tebar sebar pesona welas asih
kau pun mulai lunglai lupa arah pulang
terperangkap liar lilitan tubuh

ssshhh … ahh ..
marbut mulai mendesis. tak terasa liurnya menetes …



aku menantimu di bibir ranjang
di mana telah tersaji kejujuran birahi
yang barangkali sebelumnya sering di gagahi

usah lagi kita berlamalama mengulur waktu
berdalih acuh mengacung tinggikan bahasa tabu
aku dan kau sudah cukup paham akan arti ranjang itu

dan aku masih menantimu di bibir ranjang

dengan segala kenikmatan aku tawarkan
dengan segala kebinalan aku bentangkan
dengan keluruhan diri aku telanjangkan

tak akan ada hal yang perlu di munafikan
untuk di tahan atau di sembunyikan

dan kini, aku menantimu pasrah terlentang

oh yesss .. auuuu …
tiba tiba tubuh marbut menegang … lalu terguncang guncang sebanyak sepuluh kali .. hahayy ..
gila, pikir marbut, belum pernah ia mendapati pepuisi se sexy ini, dan dari semua pepuisi joez didominasi puisi puisi semacam ini.

marbut lalu mencoba menelepon joez, biasa, bikin janji

‘hai joez,
ntar malem ke taman bungkul yuk ..'(kebetulan joez lagi ada acara bedah puisi di surabaya)

‘halah but ! lapo nang taman bungkul barang ! koyok arek nom ae ..’

(itu bahasa aslinya joez, kira kira artinya begini : ngapain ke taman bungkul ! mending ke hotel aja …begitu, kira kira artinya)

‘haha .. okey, entar kupesankan di mariott embong malang yach..?
bye .. muach ..’

sebetulnya joez sendiri belum pernah ketemu sama marbut sih. yang dia tahu marbut itu mirip gaston castano pacarnya julia perez, setidaknya foto profil marbut itu yang dia tahu. entah dari mana marbut dapat tu foto lalu dipasangnya di fesbuknya.

setelah dipersilakan masuk kamar no.231 sama seorang pelayan hotel, si pelayan hotel kok gak keluar dari kamar itu berdiri mematung di tepi pintu.

‘hei ! kamu !
ngapain bediri di situ ! nih, …’

joez mengeluarkan selembar kertas 50 ribuan supaya dia pergi, tapi dia menolaknya

‘aku marbut, joez ..’

‘walah … !!!’

josephine bagai disambar petir. ia mengamati marbut mulai dari ujung rambut sampai jempol kaki. rambut marbut kriwul kribo, kulit item dekil, hidung pesek, gigi kuning, tubuh krempeng. gak mbody blas ! pikir joez … joez jadi ill feel, lesu darah ..

marbut lalu beraksi seperti biasa mengeluarkan jurusnya, puisi.

namun entah mengapa puisinya seolah sekarat melihat tubuh joez yang padat. puisi yang sejak tadi dihafalkannya hilang entah ke mana, malah seolah marbut meracau tak karuan ..

joez …aku tak bisa berkata apa apa lagi
tubuhmu adalah puisi itu sendiri
di tiap lekuknya kutemukan rima dan diksi

tubuhmu,
oh … anggur whisky
kenapa aku jadi mabuk begini

hiks …

entah setan apa yang merasuki marbut, tiba tiba dia horny berat saat itu, tak menghiraukan joez yang lagi heran melihat marbut semrawut. marbut lalu dengan seribu bara hendak merangkul tubuh joez yang aduhai. tapi karena joez jago kung fu, secepat kilat dia berkelit. lalu … prakk … brakkk !! … gedubrakkkk !!! ….

tahu tahu tubuh marbut sudah terkapar di lantai kamar itu, tak bisa bergerak lagi. joez lalu meninggalkan marbut yang kesakitan karena bantingan maut itu begitu saja ..

singkat kata singkat cerita, tak ada kabar dari marbut. joez menunggu permintaan maaf kek, klarifikasi kek, atau apa kek dari marbut atas kejadian semalam. joez menunggu sehari, dua hari, tiga hari terlewati … apa kubilang, jangan sesekali membenci marbut kalau kau takkan bertekuk lutut di hadapannya. terngiang kata kata marbut itu di pikiran joez … itulah yang terjadi dengan joez. entah dari mana, logika macam apa, ada semacam aura magis di marbut yang membuat penasaran, kangen, bahkan … jatuh cinta …

joez lalu menelepon marbut,

‘halo say ..kamu di mana ? lagi ngapain ?’

di ujung telpon marbut berkata dengan suara lirih, seperti sedang menahan rasa sakit,

‘aku ..
.. di UGD .. joez ..
tulang iga ku patah tiga ….’


(the end)


———————————–
-Jakarta; 30-09-2010-
JM


*****


Bernama asli Heru Sylvanata, namun ada nama aliasnya di beberapa account facebook’nya; Marbuth Sastragila alias Abu Aviccena Alfarabi, entah masih ada yang lainnya lagi Her ? adalah salahsatu dari sekian penyair yang kerap menyajikan satire dalam perpuisiannya, contoh puisi serialnya ‘Rayuan Politik’ di sadurnya penuh bahasa gelitik mengasosiasi getir dan harap di baliknya agar kita tak mudah digoda, terpintal oleh bujuk rayu.

Badai Halilintar sering ia gunakan dalam serial puisinya Rayuan Politik adalah kias yang mengironi dalam dirinya kehendak untuk memecah, dan menyatukan kembali apa yang telah terpecahkan rayuan. Yang di akhir puisinya Heru selalu menawarkan jalan keluar dengan permainan satire dan ironi. Diksinya humor, karena kita hidup di kehidupan penuh intrik humor hitam, maka humor di balas humor..katanya Heru. [Hudan Hidayat]

Pun pada serial perpuisiannya ‘Operet Getir’ masih dengan humor, segala pengharapan akan cinta di dambanya dari sana sini selalu berakhir Getir.

Berseni kreatif namun tak lepas dari ‘estetika’ bertutur, struktur perpuisinya berpenggalan gejolak sifat manusia itu sendiri dengan segala keindahan yang memikat tarik menarik..di selingi gaya humoris dan jenaka, yang memang menurutku gila habissss…hehehe.. kian menambah semarak wacana struktur puisi itu lepas dari kata ‘bosan’ tuk membacanya.. Heru juga sering membuat esai dari beberapa puisi sahabat-sahabatnya. Adhy Rical, Cepi Sabre, John Ferry Sihotang dll.
Dan..Heru selalu menyelipkan katakata sexy – nakal – (bukan porno) yang menurutku keindahan alami gejolak berseni, antara manusia – tubuh – alam.

Entah kapan serialnya ini di bukukan?
Kapan Heru sahabatku? aku menantikannya. salam kreatif.
GBU


Note kiriman dari FB, klik;
Operet Getir, part 410 (kisah cinta marbuth – joezephine zejoe)

~ oleh ranahaksara pada September 30, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: