Selarik Bait Terakhir [Oleh; Hudan Hidayat]

Oleh: Hudan Hidayat


Peti Mati

sekotak peti kayu
berbalut putih membujur
kaku pucat membeku
menghening berkabung


Pusara

segunduk tanah merah
basah, menggenang isak
terukir nama di nisan
bertabur bunga doa

: ada penghormatan terakhir



———————————-
-Jakarta; 17-06-2010-
JM


“tubuh yang dipindahkan”

saya menyebut dua puisi jose maria ini sebagai pengucapan dari penyair yang “memindahkan tubuhnya” – “tubuh yang dipindahkan”. tak lagi ada aku-lirik dalam puisi di situ: ke mana sang aku yang selalu menjadi pijaka…n puisi lirik? aku dari manusia dalam puisi yang bergerak dan hidup, menghidupkan puisi. memang kita bisa “menokohkan” dan “menceritakan” sang tokoh dalam bentuk “bulan”, atau pun dalam bentuk alam yang lain. tapi biasanya dalam perspektif aku dalam hubungan dengan “aku” yang lain itu. rupanya aku sebagai manusia di sini sudah benar benar menghilang. atau diputar ke fungsi benda (peti mati, pusara), yang seolah berfungsi sebagai manusia dalam satu riwayat – riwayat kesedihan bernama kematian. satu momen mati yang ditangkap penyair dan bergeraklah puisi bukan pada manusia aku, tapi pada benda yang biasanya menjadi penadah saat manusia mati itu: peti mati, pusara, tempat di mana badan kita yang telah mati itu diletakkan.

badan manusia tak lagi ada di peti mati puisi pertama jose. yang ada adalah peti mati itu sendiri, tapi yang berfungsi dan memainkan fungsi tubuh, yakni tubuh si mati dalam tatapan penyair yang bukan sebagai aku lirik, tapi penyair sebagai penulis puisi. toh puisi itu lahir dari pena jose sebagai penyair? pena jose sebagai penyair yang menceritakan tubuh sebagai peti mati.

peti mati itu seolah tubuh. (ataukah karena tubuh itu telah mati sehingga tak lagi beda peti mati dan tubuh yang semestinya dikandung oleh peti mati – tempat tubuh diletakkan sebagai si mati dalam peti mati.

unik sekali pengucapan puisi ini.

sekotak peti kayu
berbalut putih membujur

“sesosok mayat terbaring
dibalut kain kafan”

tapi bukan ini: adalah peti mati dari kayu itu, yang seolah tubuh manusia, yang diceritakan oleh josephine sebagai penyair.

dalam ilmu puisi empat baris itu adalah empat makna yang saling naik bersambung ke makna lainnya. makna yang wajar untuk tubuh manusia yang mati, dengan kita manusia yang memberikan penghormatan terakhir dengan hening, menghening. mungkin mengenang akan masa masa, akan kejadian kejadian, yang membuat kita hening. tapi cara menempatkan baris baris di sana membuat yang menghening itu bukanlah aku lirik yang tak kelihatan, dihilangkan dengan suatu tehnis penulisan puisi oleh penyairnya. tapi sang peti mati itulah yang menghening. yang berkabung. padahal sang peti itulah yang mati. dan yang mati itu kini kena beban gerak yakni menghening dan berkabung.

“aku yang mengambang”

puisi pusara itu menceritakan aku yang mengambang, dan lagi lagi kita berhadapan dengan baris baris tanpa tanda (koma, atau huruf kapital). tapi langsung saja baris kata di sana tergelar. satu satunya tanda dalam puis…i itu adalah makna logis sajak dari baris ke baris. tapi makna logis sajak itu yang membuat sang aku, lagi lagi, mengambang dan menghilang.

siapakah yang terisak di situ? ada orang lain dalam puisi sebagai ia yang sembunyi, disembunyikan oleh penyairnya? tak terlihat jejaknya. yang ada adalah segunduk tanah basah.

segunduk tanah merah
basah, menggenang isak

cara menempatkan tanpa tanda begini membuat baris kata nampak sejajar, walau diikat oleh konsekwensi niscaya dari lajunya makna. lajunya makna yang biasanya akan muncul seorang aku lirik dalam puisi yang menangis (menggenang isak). tapi ini tidak. baris itu terlepas. atau kalau hendak kita sambung, maka lagi lagi yang menangis di sana adalah segunduk tanah basah itu: tanah basah atau pusara kita itu yang kini menangis – menggenang tangis.

: Hudan Hidayat


puisi selengkapnya, klik
PUISI ALIT

~ oleh ranahaksara pada September 7, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: