Sajak Kepada Bumi Negeri [Oleh; Hudan Hidayat]

Oleh; Hudan Hidayat
di bulan kemerdekaan


KEPADA IBU BUMI NEGERI

di bumi relung negeri ini
berbunga ragam suku bangsa bahasa
bernaung kuat cengkram di dada garuda
pulau kepulauan dari sabang hingga merauke
di pasak bumi berkibar bendera dwi warna

di bumi negeri kini
melambai layu nyiur terhempas gersang
menyisir helai hijau pematang yang jarang
di atas tanah subur keras mencakar gedung
ada rupa penguasa serupa boneka kayu pesolek
mematung kemayu dalam istana kaku bergerak

tetaplah berkibar bendera dwi warna
dari sabang hingga merauke
peluk kembali yang terpental era

tanah, bumi, negeri ini
terkandung lahir anak nusa bangsa
bukan serupa boneka memuja berhala
ini abdi mengabdi meliang tanah ke bumi negeri
demi ibu pertiwi bukan menguruk pundi pribadi

tetaplah berkibar bendera dwi warna
dari sabang hingga merauke
peluk kembali yang terpental era
jayalah negri ini..

negeri ini kaya, jaya, Indonesia Raya




TANAH BUMI NEGERI

menatap langit, kita lahir di bawah langit
ingatlah kelahiran matahari di waktu fajar
titik terkuat waktu, lalu pergi membenam malam
mengenalkan kita satu sama cerita cita bintang

ingatlah bumi, ingatlah tanah, semesta raya
suku, bangsa, bahasa dan sejarah
mereka adalah sajak kehidupan

kita bergerak, bernyanyi dan menari
ingin berkembang hidup bersama
menapak jejak di bumi pertiwi

bumiku negeriku
o ibu, o pertiwi
aku bersajak di atas tanah bumi negeri ini

bangkitlah dari kematian suri era boneka
m e r d e k a l a h


———————————————-
-Jakarta; 04-08-2010-
JM


aku persembahkan padamu Indonesiaku dalam usia yang ke 65tahun.

salam


Oleh; Hudan Hidayat

sajak politik biasanya hambar, karena kata terjebak pada slogan. tapi kamu bisa berkelit dari salah satu dosa puisi itu, jose – slogan. kata katamu ini, dengan po…litik sebagai nuans, adalah sepenuhnya puisi. indah dan getir saat membacanya. panggilan dari rayuan pulau kelapa, lagu saat kita kanak dulu, kembali membukakan senyap dan melo nya pada kita di alam dewasa kini. ga percaya? tanya tu sama temanku kekasih hati: tuan maman hiks hehe aku puasa lo msm nih 234-mu di bibirku hehe

aku suka dengan cara penyair ini menulis (ridwan mahadi, kedapan rindu)- jelas datang dari tradisi kepenulisan penyair penyair yang kuat. akan lebih kuat lagi kalau “kau” itu diputar dan dilambungkan naik, se…hingga kau kini keluar menjadi kau yang lain. tentu saja akiba…tnya semua imaji dan metapor bergerak pula ke arah kau yang sudah diberi pelontar untuk menjadi kau-transendental.

saya kira sifat transendensi inilah, yang selalu membuat puisi atau seni pada umumnya memiliki daya penarik yang kuat di mana mana. ia menjadi agung karena itu. ia menjadi dirindukan orang karena itu. dalam puasa, kejernihan itu kadang bisa muncul, tapi dalam tak puasa pun kejernihan yang sama bisa muncul juga. nasib juga, akhirnya bahasa itu. dan benar: takdir. kejarlah: penyair yang ditakdirkan menjadi besar, besar, itu kelak akan mengatasi medium walau misal, tapi justru, karena di maya.

dua puisi dengan satu ucapan – puisi juga: hampa di balik harapannya. berharap di bali kegetiran hampanya. menarik jose. aku lagi kumpulkan sajak sajak kemerdekaan ini. semoga bisa muncul dengan esai renungan kemerdekaan pagi ini.


Hudan Hidayat

~ oleh ranahaksara pada September 7, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: