Melukis Gerimis [Oleh; Awan Hitam]

Hujan

Selalu mengingatkan aku kala kanakkanak..
di situlah aku merasakan Ibu ada.. hingga saat ini jika hujan (anugrah) mengguyur tiada jenuh, kutatap kristal air keruh itu menderas seolah itu ibu..(rindu terobati) mau tau mengapa?

“karena saat kanak, aku sering dilarang bermain hujan, diijinkan ketika hujan reda. aku merengeng kesal sejadi-jadinya keluar rumah berlarian sambil berguling-gulingan sepanjang gang perumahan, pelampiasan kedongkolan tak bisa menikmati derasnya hujan. hik.. Pulang-pulang omelan ku dapat dan habislah badan oleh cubitan dan pukulan dari beliau karena baju kotor dan robek karena keseret aspal gang.”

(asli, tak di pungkiri kanak ku memang bandel… xexexe)

Jujur sejak kecil aku memang belum pernah bermain hujan-hujanan seperti anak-anak pada umumnya. Baru setelah dewasa tua bandot ini aku baru bisa merasakan langsung bermain akrab dan bersetubuh dengan hujan. Keluar masuk gang telusuri jalan raya, keciprat-ciprat genangan air hingga mandi di bawah pancuran talang.

Ternyata hujan tak mengenal batas usia, ia memberi kelapangan kepada siapa saja yang datang dan menyambut perkawannannya. Suara gelegarnya seolah seruan ajakan atau alarm alam, tanda bahwa ia sedang dalam perjalanan.

Kembali terkenang akan beliau, semoga sehat adanya.. amin.
Love n miss u mom. GBU



MELIKIS GERIMIS

sudah lama kusulam buram khayal wajah ibu
dalam tirai gerimis hujan

ku tatap ratap kenangan bocah
suara gerimis yang tiris di beranda
teringat larangan ibu menyetubuhi hujan
‘jangan berkawan main dengan hujan, ia kotor dan penyakitan’

kulabur menghambur tubuh ke jalanan
gerimis kian menderas keras
bebas ku setubuhi hujan yang dulu terlarang
basah menggenag tenang air mata terhanyut
memeluk gigil aku rasakan amarah ibu

belum puas tuntas rasa kerinduanku
deras beringsut susut mereda
cerahkan langit gerimis terkikis pelangi
terlukis wajah ibu,
tersenyum menatap kuyup tubuhku



———————————————–
-Jakarta; 06-09-2010-
JM



Oleh; Awan Hitam

Tulisan ini sangat personal kembali.Tentunya sebagai kenangan indah antara ibu dan hujan juga tentang masa kecil yang manis dan indah.
baris baris puisnya pun ku juga suka…seperti membayangkan gerimis menyentuh tubuh….dan rasa lega aka…n suatu kepuasan dalam pelukan hujan gerimis yang menerpa tubuh…

“ku labur menghambur tubuh ke jalanan
gerimis kian menderas keras
bebas ku setubuhi hujan yang dulu terlarang
basah menggenag tenang air mata terhanyut
memeluk gigil aku rasakan amarah ibu”

Gerimis yang berkecamuk diluar dipadukan dengan gerimis dalam diri…tentang ibu yang marah…(karena sayang dan tak ingin anaknya sakit)…

Mungkin baris yang terasa emosional (sedih bercampur bahagia) …antara harapan dan berharap ada senyum dari ibu…seandainya kini melihatku diterpa gerimis ..

“cerahkan langit gerimis terkikis pelangi
terlukis wajah ibu,
tersenyum menatap kuyup tubuhku”

Salam hangat mba Jo
Puisi gerimis yang indah …

Awan Hitam

~ oleh ranahaksara pada September 7, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: