Anak Hujan [Ulasan Oleh; Syaiful Alim]

Anak Hujan
oleh; Syaiful Alim


Ciprat kecipak kaki kecil menyepak genangan hujan
Gerimis menderas mendarat keras kuyup tubuh mungil
Ditebasnya tirai lebatnya rinai untuk tawarkan payung
Giring belakang tubuh kering agar tak serupa kuyupnya

Ciprat kecipak biar kuyup kulit kerut kisut
Ciprat kecipak biar kuyup tak gentar gemetar

Gerimis menderas ke tubuh dekil menggigil
Gerimis menderas ke tubuh harap upah meruah

Badai bagai seruan doamu
Hardik petir tak membutmu ketir
Bahwa dibawah kau sedang menanti jatuhnya anugrah kehidupan


JM
Jakarta; 21082010
————————
———-


“malam 21 Agustus kala hujan deras kota Jakarta, memperhatikan bocah2 pengojekpayung. kuyupnya tawarkan payung.. aku menikmatinya.”

apa yang saya kutip di atas adalah sebuah pengakuan kreatif sang Penyair ketika melahirkan sajak ‘anak hujan…’.

pada hakikatnya ‘pengakuan kreatif’ itu bisa kita duga meski tanpa keterangan dari sang pembuat teks. Pembaca bisa meraba-raba dari lekak lekuk tubuh kata.

ditelisik dari ‘pengakuan kreatif’ itu, maka sang pembuat teks mengakui dengan jujur apa yang dialami. yang menjadi soal adalah hasil dari pengamatan itu; baik atau buruk. karena kebanyakan laporan pengamatan yang langsung ditulis tanpa pengendapan itu menghasilkan sajak buruk. bagaimana dengan sajak ‘anak hujan’ milik Penyair Josephine Maria yang saya kagumi dan hormati ini. entah kenapa jika membaca atau menyebut nama ‘Maria’, saya serta merta meneteskan air mata. dialah Bunda Maria.

saya terkenang dengan tradisi ‘haiku’ masyarakat Jepang. haiku yang baku dalam jumlah suku katanya. haiku yang lahir dari pengamatan langsung dari alam yang sedang dinikmati.

menurut hemat saya sajak ini sudah baik mendiskripsikan atau mencitrakan hujan dan anak yang menjadi objek lirik itu. tapi saya melihat ada celah-celah yang hampa. dalam artian belum diisi sesuatu oleh sang Pembuat teks, Penyair.
mungkin kesemua larik-larik sajak di atas terkemas pada ending:

“Badai bagai seruan doamu
Hardik petir tak membutmu ketir
Bahwa dibawah kau sedang menanti jatuhnya anugrah kehidupan”

tugas Penyair ini adalah menggelar pijakan-pijakan sebelum menetak pembaca dengan kesimpulan.
demikian. saya ucapkan salut dan terima kasih.

salam damai dan hormatku,


Syaiful Alim.
Sudan

————

~ oleh ranahaksara pada September 7, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: