Realita Palsu [feat JohnJose]


HIPER REALITAS RINDU

Mencanangkan kematian cinta adalah keharusan. Seperti cinta siang dan malam harus tertujah di ujung senja. Subjek tubuh pun musti berakhir: matinya sang pangeran penggoda dan gadis nyaris pemikat. Kita hanya butuh sedikit pelunakan pernyataan pribadi. Pernyataan bodoh yang nyinyir seperti ‘aku mencintaimu’. Dan aku tak butuh puisi palsu para penyair. Juga tak hirau lagu cinta yang diusung para musisi. Aku sudah memasung bayang-bayang kecantikan dan ketulusan. Dalam pengadilan hipermoralitas. Bahwa sensualitas dan romantisme adalah glosarium tak penting. Meski menuntut sebuah penjelasan. Penjelasan yang tak menjelaskan ketidakjelasan dengan jelas. Seperti cinta kita yang tak terjelaskan secara empiris. Absurd!, namun sungguh kita nikmati.

Kita memang tercipta untuk memabahbiak paradoks inheren. Membenturkan keinginan postmodernisme dalam dematerialisasi bilik jumpa. Mengaburkan segala batas waktu jemu. Melipat ruang dengan digitasi yang ringkih. Yang real dan bukan real tak jadi masalah. Kita hanya butuh sedikit simulakrum. Simulasi yang tak berjarak. Membuat substisusi lebih radikal, lantas membongkar segala acuan kanon hegemoni! Dunia maya adalah dunia nyata bagi kita. Itulah kenyataan manis akan kata rindu yang pahit. Sebab ilusi dan fantasi kemolekan tubuh tak harus berarti kepalsuan. Nyatanya kita mengindahkan etika: untuk kebaikan. Etika rindu yang mampu kita tuntaskan dalam matriks digital. Dalam kemuraman wajah dan keremangan jumpa. Dan itu kebermaknaan. Kebermaknaan sebuah ketidakpastian. Harmoni disharmonis. Paradoxical juxtaposition.

Cinta kita memang berpeluh rindu hiperrealitas. Dan sungguh kita berdua pemuja surrealitas. Yang tak membutuhkan medium dan sensasi kerumunan. Tak butuh representasi atau abstraksi kehadiran. Kilometer sudah menahbiskan kita menjadi hiper. Dalam tubuh yang hiperkhianat, hipertulus, hiperindividuasi, hiperkriminalitas, hipersufi, hipersemiotika, hiperhermeneutika, hipersihotang hingga hiperbir. Serentak. Pun dunia virtual sudah tak bisa kita tolak. Ini jaman supermesin, supersonik, superinternet, supercyber sampai superentah. Inilah supercinta, gadisku yang super!


—————————————-
Borneo, 14 Agustus 2010
John Ferry Sihotang




PUISI PALSU

itu palsu
aku mengetahui di sudut senyuman tipis
…memeluk bahu pemilik mata yang sembab
bergamit di belakang punggung kekasih.
seperti bisa merasa perasaan itu, padahal
kau tak bisa memasak apalagi meramu bumbu kata

itu palsu
mengkiaskan seolah pesona bulan serupamu
dengan bulu putih angsa berenang mengitari
tengah telaga bening di kelopak matamu,
yang di atasnya membusur alis melesatkan
anak panah jitu ke jantung hati.

itu palsu
ketika menenun juntaian rambut di jemari tangan
tampak kilauan mutiara terselipkan kuncup bunga
yang semalam dipetiknya dari taman gadis tetangga
dijepitnya di sela sayap kupukupu telingamu
ada cabang lidah ular, membisik; ‘maaf ku ingkari’

itu palsu
saat amarahnya membakar semua tulisan puisi cinta
membuatnya mengabu agat tiada kenangan,
padahal sedang di tawar para pemburu cinta
untuk di bukukan. cintanya terbeli.


aku menulis puisi palsu ini,
karena sedang bersama si pemalsu itu.



———————————
Jakarta; 05 Juli 2010
Josephine Maria

~ oleh ranahaksara pada Agustus 16, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: