Teori dan Praktek Percintaan

Teori Relativitas Cinta


Kita berdua sudah seperti ruang dan waktu. Tak tergarap sebagai variabel yang bebas satu sama lain. Kita saling terikat. Walau jarak tubuh kita berjauhan. Kita berpacu melebihi kecepatan getaran. Ya. Kecepatan jalar gelombang elektromagnetik rindu. Yang membuat energi hidup kita bertambah setiap saat. Untuk sebuah jumpa. Dan kita pun sepakat: Bahwa Energi perjumpaan adalah Massa tubuh kita dikalikan dengan kecepatan Cahaya rindu kuadrat. E= m.c2. Duh.

Kini, yang paling kubutuhkan adalah relativitas Newton. Memegang erat-erat tanganmu yang gemulai. Memandangi bulu lentik matamu. Mengikat emosi dengan tali keinginan. Keinginan yang telah begitu tinggi untuk sebuah titik-pusat-massa temu. Tentu menuntut perbandingan lurus dengan tubrukan penafsiran hunjam. Luruh dalam gaya-tarik gravitasi sebuah cumbu. Menekuni gerak chaos spontanitas. Menjadi pemilik semesta yang kosmik. Melestarikan gerakan dalam relativitas Galileo: keteraturan orbit. Berporos, melingkar, menindih, mengutub, sampai mengentah. Ya. Gerak momentum yang bertumbukan pada sebuah acuan kesepakatan: sublimasi kenikmatan.

Relativitas dalam cinta memang seolah sebuah keharusan. Tapi kita sudah melampaui Newton dan Galileo. Para penguasa juga telah membuat friksi dan mendistorsi teori Einstein: merakit bom atom. Bom dahsyat yang meluluhlantakkan Hirosima dan Nagasaki. Dan, kita bukan sekadar bom biasa. Kita berdua adalah dinamit. Yang selalu siap meledak: dalam dentuman gairah yang menghardik halilintar di malam-malam kesunyian. Yap.


John Ferry Sihotang
Borneo, 10 Agustus 2010

——————————————–


















Sublimasi Kerinduan

di awal aku menganggap ini jalinan absurd
pertemuan sekilat meredam rasa penasaran
bibir yang beradu kecup lalu saling mengulum
dan berpusar seru pada tubuh persetubahan

kini ada jarak ruang dan waktu

jarak mulai terasa membebani sua
ruang yang kian memetak kerinduan semu
sedangkan waktu konsisten pada edarnya
membuatku kian menantang memaknai jalinan ini

kita mencoba terobos jiwajiwa sepi malam
menghangatkan rasa dingin melalui kabar suara
menghardik semu nyatakan kehadiranmu
kau hembuskan nafas gairah bahwa cinta ini hidup


Josephine Maria
Jakarta; 11 Agustus 2010

—————————————–

~ oleh ranahaksara pada Agustus 11, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: