SAJAK KEPADA BUMI NEGERI INI #1


di bulan kemerdekaan


KEPADA IBU BUMI NEGERI

di bumi ini, negeri ini
berbunga ragam suku bangsa bahasa
bernaung kuat cengkram di dada garuda
pulau kepulauan dari sabang hingga merauke
di pasak bumi berkibar bendera dwi warna

kepada bumi negeri kini
melambai layu nyiur lepas pantai
menyisir helai hijau pematang mulai jarang
di atas tanah subur keras mencakar gedung
ada rupa penguasa serupa boneka kayu pesolek
mematung kemayu dalam istana kaku bergerak

tetaplah berkibar bendera dwi warna
dari sabang hingga merauke
peluk kembali yang terpental era

tanah, bumi, negeri ini
terkandung lahir anak nusa bangsa
bukan serupa boneka memuja berhala
ini abdi mengabdi meliang tanah ke bumi negeri
demi ibu pertiwi bukan menguruk pundi pribadi

tetaplah berkibar bendera dwi warna
dari sabang hingga merauke
peluk kembali yang terpental era
jayalah negri ini..


negeri ini kaya, jaya, Indonesia Raya

anak indonesia


















TANAH BUMI NEGERI

menatap langit, kita lahir di bawah langit
ingatlah kelahiran matahari di waktu fajar
titik terkuat waktu, lalu pergi membenam malam
mengenalkan kita satu sama cerita cita bintang

ingatlah bumi, ingatlah tanah, semesta raya
suku, bangsa, bahasa dan sejarah
mereka adalah sajak kehidupan

kita bergerak, bernyanyi dan menari
ingin berkembang hidup bersama
menapak jejak di bumi pertiwi

bumiku negeriku
o, ibu o, pertiwi
aku bersajak di atas tanah bumi negeri ini
bangkitlah dari kematian suri era boneka
m e r d e k a l a h . . .


___________________
-Jakarta; 04-08-2010-
JM

























GARUDA-KU

Dulu dan dulu sekali
disetiap pelosok negeri
disetiap ruang tamu
bertengger Garudaku mencengkeram kokoh
sebaris kata ” Bhineka Tunggal Ika ”
…dengan tameng lima sila di dada

Kemarin, hari ini dan esok
kutanya pada mereka
kemana pergi Garudaku, lambang perkasa putera Pertiwi
berganti sebaris ayat-suci- tertempel disudut rumah
di dinding kamar suci
yang tak kita mengerti
arti dan makna sejati
sejatinya hidup, hidup sejati

Kemana kau bawa pergi
hingga etika dan tatanan bergoyang-goyang
bagai pinggul penari dangdut dipanggung gemerlap
berbaur hingar bingar teriak, suara memekak
suguhkan kesenangan dalam sekejap.
Dari si jelata hingga dewan terhormat
bergaya bak selebriti
lantang berteriak
hingga serak.

Garudaku…aku rindu kamu.


______________________
Gubug 14 Agustus 2010.
Pakdhe Widodo




aku persembahkan padamu Indonesiaku dalam usia yang ke 65tahun. 17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2010.

salam


maturnuwun Pakdhe Widodo atas apresiasinya pada koment puisiku..
http://www.facebook.com/notes.php?id=1241838447#!/note.php?note_id=417623192135&comments



Klik Ulasan Puisi;
ULASAN SAJAK BUMI NEGERI INI Oleh; Hudan Hidayat

~ oleh ranahaksara pada Agustus 4, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: