KETIADAAN [feat JohnJose]

ABSENSIA

kekeringan hidup menjadi lukisan keseharian. kelemahan, kekerdilan, dan kerapuhan jadi warna pengalaman. penuh ketergesaan, kehampaan, dan diburu busur kecemasan. aku mendamba sebuah ruang kesunyian. mundur sejenak, melepaskan diri dari ruang biasa, keluar dari lingkunganku. menjajaki kerinduan purba yang tak lekang oleh waktu: keheningan ruang mistik kehidupan. mencari realiatas yang lain: dia-Ada. dia yang tak terlihat dan tak terdengar. ingin kudengar yang tak terlihat dan ingin kulihat yang tak terdengar, dengan peziarahan.

gunung sacra menjadi pilahanku. meninggalkan ruang hidup yang kacau, liar, dan penuh rasa takut. berjalan melewati bukit bukit batu yang tandus, sedikit rumput, dan tak ada pasir. setiap langkah berarti mendaki. gunung batu itu gundul, telanjang. angin dingin berhembus menusuk tulang, tanpa penghalang. pengenbaraan sepiku kupahat berhari-hari, sendiri. tiap tanjakan semakin gersang, kering, namun indah. perjalanan malamku ditemani sang bulan purnama. perjalanan siangku disinari sang matahari. tungkai melepuh. namun aku harus menaklukkannya: puncak tertinggi.

aku menggapai puncak dengan tenaga yang tersisa. airmata kebahagiaan menetes dari pelupukku. kutemukan oase kesejukan disana pada sebuah pohon ganjil, besar, dan rimbun. betapa misteriusnya pohon ini di puncak gunung batu. aku berteduh dibawahnya setelah pendakian yang mengharubiru. pohon itu terasa akrab, dekat, dan nyaman. suasana inilah ruang kebebasan yang selalu kucari dan kudamba: ruang sumber hidup.

di ujung senja itu, sebuah buah yang unik terjatuh. berwarna kelabu, retak, namun bercahaya: buah-bahasa. aku seolah menjadi anak kecil yang kegirangan karena rasa keheranan dan kekaguman. rasa penasaranku akan smber cahaya menyingkirkan rasa lapar dan dahagaku. kubawa ke atas batu wadas dan kupecahkan, berkeping-keping. aku hancurkan tiap kepingan sampai rusak seluruhnya. tiap pecahan aku iris tipis tipis. terlihat sesuatu yang begitu kecil, utuh, berwarna hitam kebiruan: biji-kata. aku pecahkan biji itu. kutemukan Tiada.


__________________
Borneo, 28 Juli 2010
JFS

(inspirasi dari “Thou Art That”, dari Upanisad dalam Carl Levenson & Jonathan Westpal (ed), reality)
****

HAMPA

Seperti merasa dalam liang lahat, senyap, gelap
rasakan sendiri
rasakan sunyi
kebirikan waktu
ini kehidupan sedang berjalan, raga hidup
tapi jiwa mati suri
bayangan berpendar
terpenggal peradaban
ruh ruh bumi seperti cacing tanah, menyusuk dalam
malu menapak
mencari gelap
membuat ada menjadi tiada
baiknya untuk diri
dimana pun keberadaan itu berada
jadikan diri seorang pencinta


________________
Jakarta; Juli 2010
JM

~ oleh ranahaksara pada Agustus 3, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: