Inginkan Malaikat Menuntunku [kolaborasi]

Beri kabar bila kau sedang buas

Seperti yang sudah-sudah
ada rindu tertahan akan geliat paruhmu
bila luka menjadi rindu maka cinta tiada membiru
jangan kau tanggalkan, jangan pula kau lupakan
ada cinta menggelepar mati menahan rindu
menanti di penghulu senja

Lelah menghujam, paruh ku menumpul
ku cengkram pasung sunyi malam dengan sendiri
tak ingin lagi meruncing karena cinta, sembilukan diri
bukan ku tanggalkan, juga terlupakan, bukan pula sengaja
tapi terlewatkan karna dikebiri oleh waktu

Runcingkan karena pena, tebar cinta pada kata
biar kupunguti rasanya agar bermakna
biarkan senyum gelayuti bibirmu
bolehkah kuseka mata sendu itu?
bolehkah kubalut luka dengan doa?

Jumputlah satu persatu kata, bila itu mau mu
bila ada dengan hati maka itu doa, tiada sendu
bukan berkata yang merayu senandungkan pujapuji
sekedar temani sepi, biarkan hati yang menuntunmu,
buka akar ilalang yang terurai kata

Bukan kata, hanya gelora
maka lupakan bila sudah tak bermakna
bila hatimu, maka sungguh, kata kata hanyalah ilalang
jangan biarkan ia liar, penuhi taman hatimu
kan ku semai dari tangkai agar berkelopak dan berbunga

Inginku, hati sudi menuntun tinggalkan jejak ilalang
bila masih tersisa, sudah sejuta kata terbuang
tak tertuju siasiakan waktu menanti di nanti, hanya semu
terhunus belati matikan rasa, biarlah kata hati merangkak
menanti Malaikat penuntunku

Kecup putiknya dan biarkan tangan takdir menuntun
bila terpetik, bukankah itu ilalang yang rupawan?
maka buka hatimu dan biarkan tertuntun hati yang rupawan
bukan semu belaka, biarkan jemari malaikat yang menggoresnya
bukan kecupan bukan pula lantunan

Tuntun aku bila malaikat itu ada
bila aku, maka malaikat adalah kurus hitam
hitam berhati putih
tidak hingga kau membelahnya?
kan ku belah dengan panah asmara agar sinar merenggut kelam hati
Mungkinkah?
bila mungkin? usah lah lagi ada tanya karna mungkin bisa meragu
semoga tak meretak, bila aku, maka kelamlah hatiku
pun diriku,  tak sekedar bersenandung diri
nikmati malammu, dan kunikmati senduku, di secangkir teh hitam malam ini
sedangkan ku berkhayal sendu bersama asap menghilang dalam pekat malam


: racik hati ramu kata sedu-sedan dendangkan gulana diri



____________________
-Jakarta; 21-03-2010-
[JM & NR]



ku tulis ketika sedang ngobrol kosong bersama sahabatku Novanka Raja. dari obrolan cobacoba merayu ramu kata yang sebenarnya dia tak lihai tuk merayu perempuan..hehehe.. akhirnya aku buat kolaborasi dari obrolan itu, yang sebelumnya dia tak mengetahui bila aku sedang merangkainya dan menjadikannya puisi. selang beberapa hari barulah dia mengetahuinya. lucu dan malumalu dia..
thanks u Novan, kau memang sahabatku yang memang pemalu dan tak lihai merayu perempuan.

salam

~ oleh ranahaksara pada Juli 13, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: