SELARIK BAIT TERAKHIR [puisi alit]






















Dongeng Angin Senja
merunduk layu
menatap tanah di antara tunas baru
‘di sini nanti aku disetubuhi debu,
atau dikremasi karena kehendak…’

: ceritanya selalu pada angin senja

Malaikat Maut
mengendap-endap
mencuri nafas yang silap
membujur ratap
jiwa terlelap
senyap


Sekarat
menghitung detak
di bunuhnya waktu, tenang
seperti menantang
antara amal dan dosa


Peti Mati
sekotak peti kayu
berbalut putih membujur kaku
pucat membeku
menghening berkabung


Pusara
segunduk tanah merah
basah, menggenang isak
terukir nama di nisan
bertabur bunga doa

: ada penghormatan terakhir




____________________
-Jakarta; 17-06-2010-
JM



beberapa jejak akhir sebelum meliangnya tubuh ini.
kematian seperti momok diri, bagai kiamat kecil kita yang belum siap menerimanya bila ia akan tiba tanpa permisi.. kematian memang akhiri kehidupan duniawi namun disana menanti kehidupan yang abadi.. amin

Salam Damai



ulasan puisi oleh Hudan Hidayat.
klik; Ulasan Puisi oleh; Hudan Hidayat.

~ oleh ranahaksara pada Juli 12, 2010.

Satu Tanggapan to “SELARIK BAIT TERAKHIR [puisi alit]”

  1. […] : Hudan Hidayat puisi selengkapnya, klik PUISI ALIT […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: