Bedah Puisi Adhy Rical, Oleh; Heru Sylvanata

Oleh; Heru Sylvanata

Syair-syair mimmetik khas penyair Adhy Rical memang selalu unik terasa segar dan dekat dengan alam. Alam ini tercipta berjenis kelamin perempuan, Adhy. Hembusannya selalu segar dan menyejukkan, selalu indah tubuhnya untuk kita bahasakan selalu menarik untuk kita gali kita cangkuli maknanya.

Biarlah benih-benih bahasa itu tumbuh subur di kebun hatimu. Menggantung-gantung berayun ayun menawarkan montok buahnya.

Inilah puisi sang goresan purba berbalut getah cemara itu :

Kutang Pancara

kutunggu engkau di pancara
melewati sungai konaweha
perempuan pasir menyimpan pokea di kutangnya
jangan takut tenggelam
kita buka dengan kancing baju
agar keringatmu menderas

sudah lama mengail dakimu apung
tapi tak pernah tenggelam lelah
belum bisa mengeja titahmu tatih
padahal kau memanggilku lelaki air
setelah menyelam dalam tangis anakmu
apakah aku mirip perempuan batu menangis?

kutunggu engkau di pancara
menjadi bilalmu
dan dayung masa tuamu
apakah engkau akan datang kutangku?

kutang yang engkau titipkan padaku
sudah kupenuhi beras
kau tak perlu memelas
dua tiga lelaki mendayung tubuhmu

Laosu, 2010
Adhy Rical, 04, 02

pancara: rakit kayu
pokea: kerang sungai

***

Puisi yang mengawinkan alam dengan seorang perempuan. Mengangkat sisi erotik dari hitamnya dunia. Di mana mata kita sering memandangnya dengan sebelah mata. Sisi getir antara dua pilihan yang seringkali sulit, makan atau Tuhan, Tuhan atau makan. Kadang sepertinya Tuhan itu suka bercanda dengan perempuan, kadang terasa keterlaluan.

Sisi getir dari lingkup yang mikro, seorang perempuan di tanah berpasir, bahkan lebih mikro lagi lingkup pengangkatan tema ”kutang”. Bahwa ia, atau mereka (ia dan kutangnya) juga ”korban sistem” dari sebuah wilayah politik yang luas.

Harta kita ini ”dirampas”, dan bukan berarti ”tidak sengaja terhilangkan” atau ”hilang dengan sendirinya”. Kebebasan untuk menikmati pendidikan dan kesehatan yang murah itu pun ”dijarah” bukan berarti ”tidak sengaja tercuri” atau ”lenyap dengan sendirinya”.

Rumus jumlah beras itu juga atas nama matematika dan fisika. 10 adalah hasil penjumlahan yang bukan hanya 5+5, tapi juga 6+4, dan 7+3, bahkan 9+1. Artinya bila ada korupsi uang rakyat, maka ada hak-hak rakyat yang ”dirampas”. 1 triliun uang rakyat se Sulawesi dirampas, maka satu Konawe bisa kelaparan selama satu tahun tak makan. Pencurian emas di Minahasa oleh Amerika, menutup peluang rakyat setempat untuk bisa menikmatinya. Adil ya Tuhan kita itu, Adhy. 9+1 juga = 10.

Kembali ke soal alam dan perempuan.

Wanita hilang perawan, cela di mata dunia, katanya. Wahai Adhy, penyairku, apa hutanmu di Konawe masih perawan? Hutanku di Jawa sini makin menghilang. Ada sensasi yang hilang kalo hutan itu gundul tak lebat lagi ya. Jadi mudah becek tak ada penahan untuk air yang memancar dengan deras. Hujan menyapu lumpur dan batu. Jangan salahkan badai halilintar yang berteman dengan hujan. Karena ia kekasihnya selalu sejoli bersama. Ke mana-mana berbuat apa saja persis maunya Tuhan mereka.

Kutang…

Hihihi, geli.

Hati-hati kalo ketemu sama bang Haji Rhoma Irama, bisa kena pasal 18 UU APPRI, nih kubacakan ya :

Pasal 18.

Dilarang setiap orang yang sengaja membuat, menyebarluaskan, dan menggunakan karya seni yang mengandung sifat pornografi di media massa cetak, media massa elektronik, atau alat komunikasi medio, dan yang berada di tempat-tempat umum yang bukan dimaksudkan sebagai tempat pertunjukan karya seni.

Tapi jangan kuatir Adhy, kau takkan ditangkap polisi gara-gara ada kutang di puisimu ini karena UU ini masih tahap awal evolusi masih tunggu 10-20 tahun lagi eksekusi.

Tuhan kita yang Maha Aduhai itu juga ramah ke kita kok Adhy. Dia sering ngiming-imingi kita dengan abg-abg manis yang masih perawan ting-ting, ya kira-kira mirip Nikita Willy apa Asmirandah gitu. Dia juga tak malu-malu untuk bicara buah dada, tepatnya ”puting payudara”. Ohoho…Tuhan kita itu paling tahu letak puncaknya rasa.

Ini granat bahasa Tuhan di kitab suci Nya itu Adhy :

…ka’san dihaaqoo… (keras putingnya).

Tuhan menyiapkan nanti di surga itu untuk orang-orang yang mau ikut di jalan-Nya para abg perawan yang cantik jelita dan ”keras puting payudaranya”.

Ini bahasa yang sudah masuk ke esensi dan isi, Adhy. Tuhan tak bicara kutang dan tali kolornya, tapi sudah bicara apa di sebalik isi kutang itu. Sebuah ledakan dari bahasa Tuhan itu blak-blakan mengungkap isi kepala kita sebagai laki-laki. Istilah ”puting keras” itu bikin jantung kita berhenti berderap, terkapar menggelepar-gelepar.

Senggama dengan perawan itu punya sensasi ganda, kita bisa rasakan dan bedakan menggigit puting antara yang keras dengan yang lembek. Oh puting. Perempuan pasir itu menyimpan pokea (kerang sungai) di kutangnya, hehe…awas kena gigitan pokea. Mungkin gigitan pokea juga sensasi tersendiri ya adhy. Hihihi…tafsir ”gigit” itu juga indah kok. Namanya cinta itu ada gigit. Ada gigit berarti cinta. Tuhan mencintai kita dengan gigitan-gigitan-Nya.

kutunggu engkau di pancara (rakit kayu)

menjadi bilalmu

Jadi ingat lagu : ”…dosakah yang ia kerjakan. Sucikah mereka yang datang. Kadang dia tersenyum dalam tangis. Kadang dia menangis di dalam senyuman…”. Ia mungkin penumpang gelap dalam perahu hidup kita. Tapi tak ada yang menjamin kita lebih suci dari dia. Boleh lah ia sesekali naik rakit kita menuju dunia lain yang lebih terang benderang dan menawarkan kesucian seperti halnya bilal (muadzin) yang setia mengumandangkan panggilan di setiap perjamuan dengan-Nya.

Lelaki air, mendaratlah. Tak lelah kah dirimu bercinta dengan sungai dan laut. Sini mendarat, istirahat di kamarku yang rindu berat. Kubuatkan kopi hangat. Kalo masih kurang hangat, kudekap, biar deras keringat…hihihi….

kutang yang engkau titipkan padaku

sudah kupenuhi beras

Kata Dahlan Iskan, nilai uang itu tergantung seberapa kita cinta dan butuh kepada uang itu. Selembar uang 100ribuan serasa 1 triliun jika kita cinta mati dan itu satu-satunya yang tersisa. Sebaliknya, kehilangan 1 T tak berarti apa-apa jika masih punya 100 T lainnya. Bagi wanita itu, segenggam beras yang ia perjuangkan dari hasil menggadaikan kutangnya sungguh sangat berharga untuk makan anak-anaknya.

Entahlah, adhy. Politik ini kalo kita lihat dari kacamata kutang wanita itu begitu kejam ya. Aku tadinya mau ketawa pas baca judul puisimu ini, tapi setelah kulihat ada getir di sana, aku tetap ketawa tapi sambil mengelus dada. Dadaku sendiri maksudnya.

Nanti pinjam kutangmu ini ya adhy. Kan kuselipkan di rayuan politik 11.

I love you, Adhy.

~ oleh ranahaksara pada Juni 25, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: