Bahasa – Kasus Puisi Penyair Adhy Rical dan Fitrah Anugerah

Oleh;  Hudan Hidayat

Kutang Pancara

kutunggu engkau di pancara
melewati sungai konaweha
perempuan pasir menyimpan pokea di kutangnya
jangan takut tenggelam
kita buka dengan kancing baju
agar keringatmu menderas

sudah lama mengail dakimu apung
tapi tak pernah tenggelam lelah
belum bisa mengeja titahmu tatih
padahal kau memanggilku lelaki air
setelah menyelam dalam tangis anakmu
apakah aku mirip perempuan batu menangis?

kutunggu engkau di pancara
menjadi bilalmu
dan dayung masa tuamu
apakah engkau akan datang kutangku?

kutang yang engkau titipkan padaku
sudah kupenuhi beras
kau tak perlu memelas
dua tiga lelaki mendayung tubuhmu

Laosu, 2010
Adhy Rical, 04, 02

pancara: rakit kayu
pokea: kerang sungai

***

Pada Celana Dalamku

Aku telah mendarat pada dermaga yang menyimpan celana dalammu. Aku melihat pada celana dalam itu sekumpulan ikan kecil tersangkut di ruas benangnya. Kupungut satu persatu. Kumasukkan pada tas kerja. Menjemur pada jalanan kota.

Aku pergi melaut setelah matahari menelannya. Inilah awalku merindukan bulan. Sebab bulan meminta sejumlah ikan kecil yang ditelan matahari. Aku akan memakai celana dalam dari mu di hadapan bulan. Lalu kugoyang-goyangkan perahu dengan tarian ombak.

Aku menjerit pada ganas tarian ombak. Aku menjebur. Tenggelam. Mengapung kaku menuju dermaga kembali. Pagi ini. Kau akan melihat di kaku tubuhku. Pada celana dalamku terkumpul ikan-ikan kecilmu kembali.

Bekasi, 02122009
Fitrah Anugerah

***

1

Oleh satu kenyataan bahwa kesadaran yang tak terlihat oleh indera itu, tanpa tubuh sebagai wadahnya, bahasa selalu tampil dengan unik yang misterius. Kita menyadari perasaan kita sendiri dan pikiran kita sendiri, tapi tanpa bahasa, bagaimana kita hendak menyebutkan pikiran dan kesadaran kita itu? Orang merasa hampa atau bahagia dengan hidupnya. Mungkin tergambar dalam pantulan fisiknya: ia tersenyum puas akan tingkat yang telah ia capai. Atau muram karena hanya semata hitam dalam pandangan. Tapi dikotomik itu tak bernama. Kita tahu pikiran dan perasaan itu, tapi tak ada namanya. Apakah namanya perasaan hati dan pilunya diri? Adalah entah. Maka entah itu adalah suatu eksistensi yang menutup pada dirinya sendiri, tak membuka keluar. Seperti batu keadaannya yang kita tak tahu: adakah ia gembira atau sedang sedih dalam diamnya.

Suatu hidup bernama dalam negara, yang warganya tak dapat mengekspresikan pikiran dan perasaannya, adalah suatu batu besar yang ada tapi tak hadir sebagai sebuah eksistensi. Ia hanya esensi. Pikiran dan perasaannya ia pendam sendiri. Dan hanya ia yang tahu apa gelora dan sedihnya dalam diamnya itu. Kita tak tahu. Kita dari penguasa negara yang kini bertanya tanya: hendak apakah orang banyak ini? Kalau aku tak tahu hendak apa, lalu apa yang menjadi dasar aku membawanya sebagai sang kuasa yang dititipi dalam rendezvous bersama ini?

Aku yang entah hendak ke mana dari satu negara, maka aku-wakil-orang-ramai yang tak tahu lagi ujung pangkalnya. Di sana telah terjadi chaos makna yang datang dari arah arah ke mana kaki hendak melangkah. Aku yang harus ditempatkan ke dalam bingkai aku-orang-ramai-dari-negara-lain. Akan dengan cepat menjadi aku bulan bulanan orang ramai dari negara lain. Bom waktu itu telah ditanam. Tapi tak ada negara yang mau menanam bom waktu pada dirinya sendiri: selalu, selalu aku di sana menggeliat mencari cari salurannya. Agar sang aku-batu tadi terdengar kicau suaranya.

Maka sebuah mekanisme tempat saluran hati, adalah niscaya dan adalah hendaknya terbuka dan mebuka terus. Mungkin arah motif sama, mungkin arah motif tak sama. Tapi suatu pepatah lama bisa diajukan: bukan soal rambut sama hitam tapi hati siapa yang tahu. Tapi adalah soal pemenuhan hajat kebutuhan orang ramai. Saat hajat terpenuhi maka motif boleh menjadi hiasan yang diberi pigura sendiri. Boleh dibawa ke tepi kenangan. Bahwa di sana: ada angan angan yang tersembunyikan. Bahwa di sana. Ada kenyataan individual yang tak diberi ruang tampil (karena itu ia dikurung dalam pigura itu).

Ideal semacam itu meniscayakan meja besar di mana orang bisa duduk bersama, dengan nyaman, untuk saling memperdengarkan bahasa masing-masing. Kalau meja besar tempat duduk bersama itu ditarik dari tempatnya, maka pada saat itu pula telah terjadi suatu bahasa yang bercakap sendiri. Di sana hati dan angan angan digelar sendiri, tanpa pendengar. Monolog bukan dialog.

Bahasa satu arah yang dengan cepat membawa warganya meluncur ke telinganya masing-masing. Di mana orang mulai bercakap sendiri sendiri di muka cermin. Lalu bahasa menghilang dari kosa kata orang ramai. Lalu orang ramai mulai mengambil praktis dari nilai bahasanya yang dia bayangkan. Negara memudar. Hidup bersama kini dipandu oleh “manasuka” dengan hasil “sesuka sukamulah”. Toh telinga kami ini bukan untuk kalian, seperti mulut kalian itu bukan untuk telinga kami ini.

Tapi dalam puisi rupa rupanya telinga dan mulut yang berucap itu tidaklah harus sama. Orang boleh punya telinganya sendiri atau mulutnya sendiri. Bahkan harus. Tak ada aras yang sama dari penampang bahasa sebagai medium. Unik lalu sama punya hak untuk tampil di sana. Tapi kepada telinga siapakah mulut sang penyair kalau dia sepenuhnya masuk ke dalam suaranya sendiri. Sedalam dalam ia mencari kata di kedalaman mulutnya, tapi lalu telinga siapakah yang kelak akan mendengarnya? Adakah mulut itu meniscayakan telinga untuk mendengar? Atau kita balik: benarkah telinga itu meniscayakan ada mulut yang membawa kata ke dalam lubangnya?

Maka kita sampai kepada hal yang klasik itu: bahasa objektif dalam puisi dan bahasa subjektif dalam puisi. Menciptakan dinamik dari ruang dan rentang. Realitas dibaca dan diolah di sana. Tapi realitas dibaca dan dimanipulir di sana. Sehingga bukan lagi realitas yang kita kenal secara objektif. Tapi realitas yang telah menjadi samar samar: seolah saya kenal ucapan penyair ini. Tapi tentang apa ya? Mulut saya seakan pernah mengucapkannya, tapi telinga saya serasa rasa asing mendengarnya.

Mungkin telinga kita asing mendengar, atau mulut kita belum mengenal dengan baik, apa yang telah dipelintir itu. Semua terbuka kemungkinan dalam bahasa. Tapi rasa asing itu, bukan sama sekali tak kita kenali. Ia hanya seakan jiwa purba kita yang begitu dalam terpendam, tak bernama (dan karena itu terasa asing). Saat sampai kepada kita, bahasa “aneh” itu memberikan sensasi dan kita mulai menimbang nimbang suatu struktur, suatu konvensi, akan sensasi itu.

Mulailah dimainkan kutub objektif dalam bahasa. Dan akhirnya kembali kepada kutub motif dalam diri manusia. Dia yang terbuka dan membuka diri akan menerima aneh dalam bahasa sebagai suatu kegembiraan. Sebagai satu rangsang dari tiap kemungkinan pengucapan. Tapi dia yang tertutup dan menutup diri, akan mengenakan pelabelan bahwa bahasa aneh ini adalah melawan realitas (yang ia kenali), dan karena itu janggal, atas mana ia lalu menolak satu bahasa kesenian dalam konteks yang baru.

Tak sebenarnya baru, atau lebih tepat: bahasa purba yang terpendam dalam dirinya sebagai pikiran dan perasaan yang melekat sebagai gen – karena tak diolah, tak disentuh, terus mengeram sebagai gen dalam bahasa yang tidur, nyaman dalam buaian ketidaktahuannya. Tenggelam di sana sebagai kemungkinan produktif manusia yang gagal sampai kepada mulut dan telinga manusia manapun.

Kita ingin membangkitkan daya daya bahasa yang paling jauh. Kita ingin membangunkan daya daya bahasa yang terpendam semacam itu. Menyambarkannya kepada mulut dan telinga manusia biasa. Mulut dan telinga sang penguasa. Agar rahasia rahasia hidup yang terpendam dalam diri, rahasia rahasia hidup yang terpendam dalam alam ini, menjadi rahasia rahasia yang telah terkuak misterinya. Dan karena itu menjadi kehadiran yang produktif untuk kemanusiaan. []

~ oleh ranahaksara pada Juni 25, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: