SEPETAK KAMAR HITAM [sepetak kamar hitam #2]

Tiba pada bilik sewaan dalam hintungan waktu.
Mereka sewa cukup semalam bahkan tak perlu hingga semalam.
‘ah, untuk apa lama-lama,’ bisik mereka berdua. karena mereka hanya sekedar membuang syahwat yang sedari tadi terpendam.
Dalam kamar dengan ukuran tak lebih dari empat kali lima meter.
Setelah membasuhkan diri masing-masing, tanpa berlama-lama membuang waktu untuk babibu cuap-cuap mereka saling pikat puja-puja kata yang perlahan jamahan jemari mulai mendarat lembut sekujur tubuh memikat atau memancing birahi.
Tiada kata akan ingin, karena nafsu dan saling membutuhkan antara materi duniawi.
Kamar hitam, sehitam mata dan hati.
Warna-warni interior kamar, gelapkan suasana rasa.
Rasa dingin ruangan, hangatkan dengan kecupan menggigit.
Untuk sementara benamkan dulu nalar bila gelora nafsu sedang memburu.
Dengan harga diri yang mereka benamkan tanpa orang lain tahu atau pun mengetahui.
Dalam bisunya kamar hitam, menjadi saksi hati yang mati.
Sepetak kamar hitam, tenggelamkan suara yang mendesis birahi.
Dan dalam kamar sepetak sewaan ada percintaan kilat terjadi.
Luncurkan cumbuan, lucuti, himpit menghimpit dan timpang tindih.
Dalam erangan gairahkan naluri agar tiba dipuncak yang sangat memuaskan.
Diatas sprei dingin cairan hangat membasah jiwa, peluh terjangan.
Selesaikan saling memuaskan masing-masing , rasa itupun terbayar dengan angka yang telah disepakati.

__________________________
-Jakarta Barat; 03-06-2010-
JZ


untuk;
hati yang mati
benamkan harga diri
terdendangkan irama birahi…

aaah…
aaah…

badan menghimpit
gamitan mengerat
desahan menjerit
napsu mengkarat
biadab melumut
laku pun melaknat

nikmat bisiknya…?
tersisa… cairan berselubung peluh rupiah

menelisik geliat malam
ada transaksi sepetak kamar



yup, sering aku amati dalam pergaulan sehari-hari dimana kebutuhan akan materi seakan merajai harga diri yang akhirnya diripun diperdukan oleh napsu. dan pergaulan semacam ini bukan menjadi tabu lagi di kehidupan kota metropolis, namun tak sedilit pula didaerah pelosok pun ada. inilah warna kehidupan, bila ingin terus bertahan untuk tetap menjalankan roda kehidupan maka untuk apapun bisa terjadi…


Salam

~ oleh ranahaksara pada Juni 13, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: