DENGKURAN MALAM YANG TERPENGGAL 

cerita malam




Sebulan sudah Lusi meninggal karena aborsi. Nyawanya tak sempat tertolong. Dan sudah sebulan pula, Bram kekasih Lusi tak pernah menengok gundukan tanah merah peristirahatan terakhir Lusi. Padahal Lusi kala itu sedang mengandung janin Bram.

Seharian ini Bram sangat letih dan benar-benar tak sanggup lagi ia menyelesaikan pekerjaan kantornya. Tak ada daya dan energy kurang bersemangat rasanya ia ingin segera pulang dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Malam inipun tak bisa dinikmatinya bersama teman-teman sekantornya atau seorang sendiri untuk berkeliling kota, walau hanya sekedar berjalan-jalan dan cuci mata yang biasa di lakukannya untuk melunturkan beban masalah sehari. Mata sudah tak bisa di ajak bersahabat, sayu mengatup. Dan Bram pun memutuskan segera pulang.

Setibanya di rumah kontrak yang dihuninya sendiri. Segeralah ia menuju kamar mandi, ingin secepatnya ia membersihkan dan menyegarkan seluruh badan dari kotoran jalan. Selesai ia membuang kotoran dan peluh di bawah pancuran air kamar mandi, berganti celana pendek dan kaos oblong ia pun segera membenamkan diri di pembaringan malam yang memang belum begitu larut. Didekapnya guling sembunyi dibalik selimut.

Tak butuh waktu berjam-jam untuk merayu rajuk matanya agar bisa terpenjam karena sudah teramat sangat letih menghinggapinya dan terpulaslah ia terbuai mimpi. Di alam sadar di keheningan malam, hanya terdengar naik turunnya gagap dengkurannya. Semakin menambah suasana yang kian mencekam karena di luar pun sedang bersahutan lolong lengkingan anjing-anjing kampung.


“aku merindukanmu, mengapa malam ini kau enggan bersetubuh denganku? setelah janin itu terpaksa kita penggal malam lalu yang akhirnya membuatku kini tertidur selamanya… mendekatlah.” Tiba-tiba suara lirih hadir dalam mimpi Bram.

“Jangan..pergilah..” Pinta Bram.

“Mengapa kau usir aku Bram? Lihatlah kemolekan tubuhku, kau sangat bernafsu liar bila aku telanjang di depanmu..” Rayu wanita dalam mimpi tersebut.


Terpaku diam mematuk bayangan itu, bayangan elok yang pernah di intiminya beberapa bulan lalu. Masih cantik dengan berbalut gaun putih terawang yang menerawang jelas lekuk dalam tubuh dan nanarkan bilur mata hitamnya. Bram tak sanggup mengelak atau menolak karena badan mereka semakin mendekat rapat.

Perlahan bibir pasi itu mendekat mematuk lembut bibir Bram, tanpa merontah tanya keluh lidah mereka terseret melesap ke dalam kuluman bibir. Terus dan terus lidah dan bibir itu saling dorong tarik menarik, birahi pun sempat terlonjak tak tertahan. Tersenggal-senggal – tiba-tiba Bram merasa lehernya tersedak, – mengerat kaku.. ia pun tersadar dari mimpi terjaga dan terbangun. Setengah duduk di sisi ranjang di sekanya peluh di dahi sambil mengingat isi mimpi tadi. Pekiknya perlahan..


“aaah !! nyaris saja aku bersetubuh dalam mimpi, ow..wanita itu, itu Lusi.” Gumamnya.

“Ah, Lusi datang ke mimpi malamku.” Gumamnya lagi.


Dan kau pun mulai mengingat samar wajah wanita itu. Angin dingin malam semilir melalui kisi-kisi jendela kamar sentak mengkudukkan tengkuk leher. Kau teringat akan Lusi gadis yang pernah kau kencani beberapa bulan lalu. Gadis yang hanya kau jadikan pelampiasan nafsumu ketika ingin bercinta saja tanpa ada rasa perasaan hati selayaknya sepasang kekasih.

Lusi, gadis manis itu hamil mengandung benih Bram. Bukan sekali ini saja mereka berlaku hingga Lusi hamil dan Bram selalu berdalih belum siap untuk menikah menjadi ayah dari janin tersebut. Maka aborsilah jalan satu-satunya. Walau sebenarnya hati kecil Lusi sangat berat melakukan aborsi lagi, ini sudah ke tiga kalinya Lusi mengeruk paksa keluar janin dari perutnya. Ia terpaksa menurut kata dan permintaan Bram, karena menjaga nama baik keluarga dan ingin berkarya dulu. Bila sudah mapan maka Lusi akan dinikahinya. Pesan terakhirmu memberi janji harap pada Lusi.

Ternyata dari memenggal janin itu, Lusi pun ikut terpenggal. Ia terbawa bersama janinnya.. pergi selama-lamanya. Sejak kematian Lusi, Bram tak pernah menengok makam Lusi kecuali terakhir pemakamannya hingga sekarang sudah lewat sebulan. Sengaja atau memang melupakannya hingga Lusi lah yang harus menghadirkan bayang dirinya ke dalam mimpi malam Bram.

Lusi hanya ingin Bram datang menengok pusara rumah abadi bersama janinnya yang kering itu.





___________________
-Jakarta; 03-06-2010-
JM



terlelapnya dalam hening
dengan dengkuran gagap nyaring

‘tak rindukah kau bersetubuh denganku? setelah janin itu terpaksa kita penggal malam lalu yang membuatku kini tertidur selamanya…’

bibir ranum pasi mendekat mematuk lembut
tanpa tanya lidahmu pun keluh terseret
tersenggalsenggal kau balas kecupannya
sempat akan kau setubuhi bayangan itu
yang melesat lonjakkan birahimu
leher tersedak kaku, kau pun terjaga
ini hanya ilusi
hanya ilusi
i lusi
lusi
si lusi
membuatmu terjaga
akan pusaranya




Janji, mungkin hanya sepele..hingga mudah pula teringkari dan terlupakan begitu saja. Walau hanya sekejap dan tak bisa mewujudkan sebesar apa yang pertama terjanji ada baiknya kita menujukkan sikap akan kepedulian itu.
Agar damai dan tenang hati ini. Semoga sahabat semua tak memiliki janjijanji yang tak pasti.
Janji adalah Hutang, dan Hutang harus dilunasi.


Salam

~ oleh ranahaksara pada Juni 13, 2010.

2 Tanggapan to “DENGKURAN MALAM YANG TERPENGGAL ”

  1. udah lama ga bikin prosa liris…
    sekalnya lihat mataku seperti ingin terus bersama dengan prosa-prosa itu…
    aku merindukan nadiku mengekspolrasi hayalku menciptakan prosaku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: