TANPA

•November 25, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Tanpa

Ada yang berjingkat gila keluar dari diam yang suam. Tak berbagi, senyap merapatkan kelamin bersama bibir terkatup. Di suatu kenangan begitu halus mengerat napas. Tak bisa tertahan berdalih rindu. Duh! Tubuh sepi merapat memanjang kelok tak bertepi. Mematuk yang seolaholah ada. Dibalik waktu saat tubuh merapat lekat di bibir ranjang kelam. Satu nama disebut. Ingin. Suatu rasa ingin yang tak berkesudahan itu lepas. Yang kembali berkeliat menciptakan persetubuhan. Antara napsu dan daya kesekian kali.

Sebatang rokok setia menuju kebisuan senja. Baranya menyudut meletak gelora, menghangatkan liang. Asapnya lepas dibalik ayunan kelambu, mencari ketinggian pijak ketika puting menegang diremas cemas. Ketanpaan, pipi merona memanggilmu dari kebekapan dengan nafas tertahan. Kebekuan memeluk angin, menyiasati rindu akan ingin yang tak mengalihkan ruang temu, ketika bersenggama sanggup menempatkan benak dan biduk keentahan.

Ada yang berjingkat gila keluar dari diam. Biarkan hening menjebak senggama yang singkat. Lumpuh. Tanpa kamar. Tanpa tubuhmu. Satu nafas lemah. Satu nafas puas. Sedangkan bara sepertinya tak peduli atas waktu dan ruang secara bersamaan.

Adalah aku diam bermasturbasi.


Josephine Maria
Jakarta, 26.11.2012

TATAP

•Juni 22, 2012 • 2 Komentar

Tatap




Lenggang menuju tepi, perempuan senja menatap bular sekeliling. Kelam menari di atas bayang. Bayang tubuh yang seumpama. Seolaholah adalah dirinya memungkinkan pada suatu keadaan berbeda. Ia meraba dingin akan ingin.
Perhitunganperhitungan.
Sebab mengapa. Sebab terjadi.
Sulit kerap terpelihara untuk menjadi sebuah pilihan.

Perempuan itu penganut jalanan. Kurun keentahan dengan mencucuk waktu keraguan. Mengerang kenang sembari mengais masa perawan. Ketika ada desah indah berdandan sajak. Lenggok menanjak tegar di pundak.

Betis kakinya kukuh menompang sebongkah monumen tanpa hikayat. Tanpa meruwat. Hanya sebuah nasib yang hingga kini tersimpan dalam, sedalam kerutan dahi dan kelopak mata dari masa silam yang dibangun dalam diam dengan jarak yang menganga.
Berarunglarung.
Sebab mengapa. Sebab terjadi. Kerinduan datang menelanjang.

Kisah beranak pinak. Adalah aku manatap masa meratap keentahan.



Josephine Maria
Jakarta, 21.06.2012

AKU DI DUA KOTA

•Maret 19, 2012 • 2 Komentar

Aku di Dua Kota

Sudut kota meruncing.
Di tengah padang batu. Celana dalam, kutang dan kelamin berebut teduh. Langit menanti musim, memukul angin karena ruang geraknya penuh sampah. Bau sperma, bau bangkai, bau batu bata yang dibakar. Kau lupa cara menutup kelaminmu sendiri saat menatap tangis tak urung melembabkan kota. Kota tua diam menyudut. Ramping meliuk disetubuhi angin. Ke arah Barat atau Timur? Sedangkan Selatan dan Utara persetan dengan tradisi. Sementara celana dalam, kutang dan kelamin kian gencar menimbun kota. Langit masih galau memukul angin. Memihak musim.

Suara sumbang tuan kota.
‘Angkat rok minimu,’ sumbang pun nyaring melihat betis diigiring angin.‘ikuti perintahku, kita buat kotak kotamu berpagar kata sandi…’ suara dari kolong tempat tidur samping selimut sejajar lubang angin. Gelapnya tanpa pintu terekam segala peristiwa dengan nama dan segenap peran. Kepala tanpa mata, lidah dan telinga. Tubuh tanpa tangan dan kaki. Ragu tak nampak, selimut itu pun yang mengubur tangan dan kaki tuan. Mata, lidah dan telinga terlipat dalam celana dan kutang. Akhirnya menggali lubang sendiri. Dikenang tugu dengan tanggal keramat.

Aku ada di dua kota. Sebelum senja dan sebelum di sini. Biarlah hingga pada batas tepi. Menyudut. Ke arah Barat atau Timur.



Josephine Maria
Jakarta; 18.03.2012

RUANG

•Maret 19, 2012 • 3 Komentar















Ruang tanpa sekat.
Ada tawa mengguyur melalui selangkang beratap anyaman angin. Getar bernyali mengarah jauh dari nafas kamar. Jauh dari bingar tak tik mesin dan tak tuk sepatu. Ruang lembab dengan kelambu liur penada penat. Dinding telinga hanya mendengar tepukan nyamuk. Tak ada aba-aba. Seperti menambal kain percah agar tak berlalu meratap angin. Disampingku, hawa tak bernama meremas landai putingku. Seakan memberi tanda rasa sebelum melayang untuk kesekian. Senggama sepintas yang sepi lekuk.

Jam mengetuk waktu tanpa kenal musim. Tawa menjuntai bait-bait puisi sebelum fajar. Sekat berongga, mengerak kisah beranak cucu hingga lembah menjamur misteri. Lidahku jatuh mengulum isi bibir yang seluas kamar. Liur menitik, titik. Rasa itu dekat, otak dan hati bukan kelamin yang mendekap bayangan rimba. Roboh menunggu dikoyak bahasa seakan melompat-lompat seperti ada api. Pernah napsu berkata; ‘butuh semalam membangkitkanmu, dan akan kembali terulang…’

Kamar, nafas dan lidahku menggagaskan cerita tubuh sepi.



Josephine Maria
Jakarta, 15.03.2012

TENTANG

•Maret 19, 2012 • 2 Komentar

Tentang Sesuatu

Tentang sesuatu.
Menerjemahkan suatu kesimpulan seperti tidak peduli dengan tingkah dan celoteh akutnya kerumunan. Menuju tepi. Di sebuah kurung, malam menuntun gelap menjelma ruang imajinatif perayaan getar kesekian. Akal kita memuai, mengguncang tata terbit, mengancam status. Diantaranya, menafsirkannya dengan keganjilan yang dibangun dari tubuh-tubuh galau kesepian peradaban. Ungkap sebuah hasrat.

Tentang sesuatu.
Seperti memintal angin. Samar meraba dingin, menyemat ingatan memilah waktu yang bisa sekejap menghadirkan rindu. Menafsirkanmu adalah tubuh masa lampau yang dibangun dalam diam dengan jarak menganga. Aku menangkap geram pikiran hingga terjungkal dalam dasar rasa. Dalam ruang dan waktu pemakhluman rindu hadir pada sebuah kejutan. Ketidakpastian. Ketika rindu menjelma peran kenang yang ingin kita terjemahkan dalam dekap keentahan sampai akhir nafas. Demi sebuah kenangan.

Tentang sesuatu.
Membangun kemungkinan. Hidup sepenuhnya kumpulan dari gagasan dengan antrian panjang harap, meskipun harus rela terkapar mengulum senyap keganjilan. Ada cemas terpanggang. Sebuah kisah tak sudah-sudah keluar masuk hingga kepul asap meninggalkan putung rokokku yang mulai merajam ingin. Ada keinginan untuk dimengerti selain senggama. Kita bertemu penuh lenguh, bersejingkat tuntaskan keingintahuan tanpa keterpaksaan dari sebuah syahwat. Sepenuhnya pasrah. Kebetulan yang tidak kita bayangkan sebelumnya. Akan sebuah ruang temu.




Josephine Maria
Jakarta, 28.01.2012

TANDA

•Maret 19, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kau yang diam, tubuh penuh tanda tanya berupaya gerak dengan keentahan seperti kehilangan ilusi. Kau seperti tak memiliki ada namun menikmati sepi yang bukan kesepian. Derasnya perlawanan menguasai gerak. Berkeliaran menghasut, sejati tak selamanya didapatkan dalam bentuk. Berikutnya, apa yang bisa kau temui selain kehendak yang perlahan menyingkir karena bukan apa-apa. Sebuah genggam mungkin mampu mengguncang diammu.

Kita tak pernah kehabisan takjub yang lalu-lalang dengan latar belakang misteri. Oleh karenanya kita membutuhkan kenang dari jarak pandang waktu yang menjadikan kita saling mengeja, terbata racau kapan kesepian berakhir pekan.

Meski tak kunjung temu. Kau yang diam dengan tubuh penuh tanda tanya. Gagap mengulum bibirku yang mulai keluh mengeluh atas kesepian yang tiada henti.

Tubuh kita pun menanggalkan tanya dari sedemikian rupa tanda yang berserak.



Josephine Maria
Jakarta; 10.01.2012

LAYANG PELAYANG

•Agustus 5, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

: Layang Pelayang

Festival Layang-Layang di lapangan Rampal-Malang
























layang
pelayang
melayang
mengawang
membentang
bayang

diam pelayang,
dalam bayang melukis nyata tertata layang
gauli musim silam silang menyilang
rajuk memanggil angin menembus bathin
ada degup meratap harap angin berpihak bijak
merekam lidah saat kau menyebut gugup namaku.

layang pelayang melayang
benang birahimu meregang tegang
menyusup di antara bulubulu angin dingin
yang telah tercemar memar rindu kita

tenangnya pelayang,
terbang mengangkasa tubuhtubuh perasa
layang melayang pesona berhamburan harapan
aku terlena menggurat siluet di bawah sengit kaki langit
bahwa kita pernah bersenggama menyelamatkan sepi

layang
pelayang
melayang
mengawang
membentang
bayang



—————————————
-Jakarta; 05-08-2011-
Josephine M