AKU DI DUA KOTA

•Maret 19, 2012 • 2 Komentar

Aku di Dua Kota

Sudut kota meruncing.
Di tengah padang batu. Celana dalam, kutang dan kelamin berebut teduh. Langit menanti musim, memukul angin karena ruang geraknya penuh sampah. Bau sperma, bau bangkai, bau batu bata yang dibakar. Kau lupa cara menutup kelaminmu sendiri saat menatap tangis tak urung melembabkan kota. Kota tua diam menyudut. Ramping meliuk disetubuhi angin. Ke arah Barat atau Timur? Sedangkan Selatan dan Utara persetan dengan tradisi. Sementara celana dalam, kutang dan kelamin kian gencar menimbun kota. Langit masih galau memukul angin. Memihak musim.

Suara sumbang tuan kota.
‘Angkat rok minimu,’ sumbang pun nyaring melihat betis diigiring angin.‘ikuti perintahku, kita buat kotak kotamu berpagar kata sandi…’ suara dari kolong tempat tidur samping selimut sejajar lubang angin. Gelapnya tanpa pintu terekam segala peristiwa dengan nama dan segenap peran. Kepala tanpa mata, lidah dan telinga. Tubuh tanpa tangan dan kaki. Ragu tak nampak, selimut itu pun yang mengubur tangan dan kaki tuan. Mata, lidah dan telinga terlipat dalam celana dan kutang. Akhirnya menggali lubang sendiri. Dikenang tugu dengan tanggal keramat.

Aku ada di dua kota. Sebelum senja dan sebelum di sini. Biarlah hingga pada batas tepi. Menyudut. Ke arah Barat atau Timur.



Josephine Maria
Jakarta; 18.03.2012

RUANG

•Maret 19, 2012 • 3 Komentar















Ruang tanpa sekat.
Ada tawa mengguyur melalui selangkang beratap anyaman angin. Getar bernyali mengarah jauh dari nafas kamar. Jauh dari bingar tak tik mesin dan tak tuk sepatu. Ruang lembab dengan kelambu liur penada penat. Dinding telinga hanya mendengar tepukan nyamuk. Tak ada aba-aba. Seperti menambal kain percah agar tak berlalu meratap angin. Disampingku, hawa tak bernama meremas landai putingku. Seakan memberi tanda rasa sebelum melayang untuk kesekian. Senggama sepintas yang sepi lekuk.

Jam mengetuk waktu tanpa kenal musim. Tawa menjuntai bait-bait puisi sebelum fajar. Sekat berongga, mengerak kisah beranak cucu hingga lembah menjamur misteri. Lidahku jatuh mengulum isi bibir yang seluas kamar. Liur menitik, titik. Rasa itu dekat, otak dan hati bukan kelamin yang mendekap bayangan rimba. Roboh menunggu dikoyak bahasa seakan melompat-lompat seperti ada api. Pernah napsu berkata; ‘butuh semalam membangkitkanmu, dan akan kembali terulang…’

Kamar, nafas dan lidahku menggagaskan cerita tubuh sepi.



Josephine Maria
Jakarta, 15.03.2012

TENTANG

•Maret 19, 2012 • 2 Komentar

Tentang Sesuatu

Tentang sesuatu.
Menerjemahkan suatu kesimpulan seperti tidak peduli dengan tingkah dan celoteh akutnya kerumunan. Menuju tepi. Di sebuah kurung, malam menuntun gelap menjelma ruang imajinatif perayaan getar kesekian. Akal kita memuai, mengguncang tata terbit, mengancam status. Diantaranya, menafsirkannya dengan keganjilan yang dibangun dari tubuh-tubuh galau kesepian peradaban. Ungkap sebuah hasrat.

Tentang sesuatu.
Seperti memintal angin. Samar meraba dingin, menyemat ingatan memilah waktu yang bisa sekejap menghadirkan rindu. Menafsirkanmu adalah tubuh masa lampau yang dibangun dalam diam dengan jarak menganga. Aku menangkap geram pikiran hingga terjungkal dalam dasar rasa. Dalam ruang dan waktu pemakhluman rindu hadir pada sebuah kejutan. Ketidakpastian. Ketika rindu menjelma peran kenang yang ingin kita terjemahkan dalam dekap keentahan sampai akhir nafas. Demi sebuah kenangan.

Tentang sesuatu.
Membangun kemungkinan. Hidup sepenuhnya kumpulan dari gagasan dengan antrian panjang harap, meskipun harus rela terkapar mengulum senyap keganjilan. Ada cemas terpanggang. Sebuah kisah tak sudah-sudah keluar masuk hingga kepul asap meninggalkan putung rokokku yang mulai merajam ingin. Ada keinginan untuk dimengerti selain senggama. Kita bertemu penuh lenguh, bersejingkat tuntaskan keingintahuan tanpa keterpaksaan dari sebuah syahwat. Sepenuhnya pasrah. Kebetulan yang tidak kita bayangkan sebelumnya. Akan sebuah ruang temu.




Josephine Maria
Jakarta, 28.01.2012

TANDA

•Maret 19, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kau yang diam, tubuh penuh tanda tanya berupaya gerak dengan keentahan seperti kehilangan ilusi. Kau seperti tak memiliki ada namun menikmati sepi yang bukan kesepian. Derasnya perlawanan menguasai gerak. Berkeliaran menghasut, sejati tak selamanya didapatkan dalam bentuk. Berikutnya, apa yang bisa kau temui selain kehendak yang perlahan menyingkir karena bukan apa-apa. Sebuah genggam mungkin mampu mengguncang diammu.

Kita tak pernah kehabisan takjub yang lalu-lalang dengan latar belakang misteri. Oleh karenanya kita membutuhkan kenang dari jarak pandang waktu yang menjadikan kita saling mengeja, terbata racau kapan kesepian berakhir pekan.

Meski tak kunjung temu. Kau yang diam dengan tubuh penuh tanda tanya. Gagap mengulum bibirku yang mulai keluh mengeluh atas kesepian yang tiada henti.

Tubuh kita pun menanggalkan tanya dari sedemikian rupa tanda yang berserak.



Josephine Maria
Jakarta; 10.01.2012

LAYANG PELAYANG

•Agustus 5, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

: Layang Pelayang

Festival Layang-Layang di lapangan Rampal-Malang
























layang
pelayang
melayang
mengawang
membentang
bayang

diam pelayang,
dalam bayang melukis nyata tertata layang
gauli musim silam silang menyilang
rajuk memanggil angin menembus bathin
ada degup meratap harap angin berpihak bijak
merekam lidah saat kau menyebut gugup namaku.

layang pelayang melayang
benang birahimu meregang tegang
menyusup di antara bulubulu angin dingin
yang telah tercemar memar rindu kita

tenangnya pelayang,
terbang mengangkasa tubuhtubuh perasa
layang melayang pesona berhamburan harapan
aku terlena menggurat siluet di bawah sengit kaki langit
bahwa kita pernah bersenggama menyelamatkan sepi

layang
pelayang
melayang
mengawang
membentang
bayang



—————————————
-Jakarta; 05-08-2011-
Josephine M

Essai Lamun by ; Hudan Hidayat

•Agustus 1, 2011 • 2 Komentar

Lamun


Menghabiskan ganasnya arah. Aku merapat menuju sepi merekareka keinginan yang tertahan rambu bahwa angin tak pernah bersepakat menghantarkan aroma kisah esok.

Di ujung malam. Wajah tegang tertutup cerutu pandangan kosong, nampak asap duka menarinari kuasai letih atas paruh usia yang masih bergumul ketiadaan. Mencumbui angan yang nyata pula kebiadabannya.

Menghabiskan ganasnya arah. Tubuh itu disentak kemustahilan membeli mentari dan menempatkannya lekatlekat di antara temaram, hingga cerutu itu nyaris membakar jari sebelum si jantan berkokok.


-Senayan; 28-07-2011-
JM



Essai HUHI

hidup jose adalah milik jose, seperti hidupku adalah milikku. seperti hidup kalian adalah milik kalian. tapi diam diam aku melihat gerak aneh dari kata kata itu: hidup memang milik kita, tapi bahasa, milik orang lain. milik dunia.

lihatlah kata arah di puisi jose yang muram tapi gagah berani ini – ia masuk ke dunia amorfatinya sendiri. ada putus asa di sana tapi ia tempuh juga keputusasaan yang diironikan dalam jalinan kata katanya yang penuh monolog personal itu. arah itu, bukan semata milik jose. hidup jose memang miliknya, tapi arah itu milik kita bersama. arah mana, kataku, berpikir kepada jose temanku, yang sedang memindahkan dirinya ke dalam puisi. sekali lagi, hidup jose memang milik jose, tapi lihatlah jose telah berbagi, telah membagi dirinya kepada aku dalam puisi itu.

kulihat aku di sana (aku jose yang pindah ke dalam puisi) dan aku mendekat ke aku di sana itu. aku melihat sebuah tualang, perjalanan panjang dengan arah yang tak berarah. menghabiskan ganasnya arah, katanya, sambil kubayangkan aku itu telah berjalan jauh sekali. bukan di arah yang tenang tapi di dunia yang penuh dengan gelombang, sehingga arah itu menjadi dunia ganas yang menelan dirinya. sehingga aku habis oleh arah itu. tapi lihatlah ia begitu berani mengatakannya, menghabiskan ganasnya arah, katanya, sambil kembali kubayangkan aku ini, aduh, aku itu, tidakkah aku dari aku diriku sendiri juga? (hidup memang milik jose, tapi bahasa milik kita bersama, bukan).

di manakah arah sepi itu? aku merapat menuju sepi, katanya. sambil dibawanya sepi dari sesudah ganas di tiap arah itu, ke angin yang tentu saja menggulung kembali sepi sebagai arah itu. lihat, kataku, arah sepi yang hendak dituju oleh aku ini, telah dimakan oleh angin itu. angin itu, jose, di manakah rumahnya? angin tak berumah seperti kau dalam puisi ini: tak berumah. ataukah rumahmu adalah rumah sepi? ataukah sepi itu sendiri adalah rumahmu dan rumahku juga? ada hari esok sebagai rumah kau dan aku. tapi hari esok yang diliputi oleh banyak tanda tanya. aku ingat sapardi, jose, yang berkata pelan pelan untuk dirinya sendiri dalam puisi. “barangkali kita tidak perlu tua dalam tanda tanya”, katanya. tapi kataku dan katamu dalam puisimu ini: barangkali kita memang harus tua dalam tanda tanya. lalu aku ingat lagi novel budi darma, olehnka yang masyhur itu. yang mengutip sajak donne tapi telah lupa konteksnya. hidup kita memang sialan ya, jose, sampai apa yang kita ingat pula pergi dari ingatan kita. seperti kutu donne tadi. ah, hidup ini indah tapi penuh sialan dalam diri kita sendiri, kata jose dalam puisinya ini. mana yang benar, entahlah mana yang benar. kau dan aku menulis saja, seperti tubuh kita sendiri ini: menuliskan saja kisahnya lewat puisi.

sebuah bait puisi telah kau tuliskan dan hasilnya adalah manusia menjadi tua dalam tanda tanya. tua dalam puisi dan tua dalam hidup nyata ini. tapi lihatlah semua orang menjadi tua, jose, bukan kau dan aku saja ternyata yang menjadi tua. semua orang bergerak ke rumah sepinya sendiri. aku ingat ibu dulu: makanlah di rumah jangan makan di rumah orang lain. ibu diam dan mengerlingkan mata indahnya, saat aku bertanya. dia tidak menjawab. saat aku hendak pergi ke sebuah sepi yang lain, di stasiun dekat pasar di kota kecil kami, air mata berlinang di mata ibuku. nak, katanya, ibu tak lagi bisa memasak makanan kamu. air mata kusambut dengan air mata, jose. sebab seperti kata caleste dalam novel camus itu: kita hanya memiliki seorang ibu. dan di sini kamu menyambut air mata dengan bahasa. hasilnya sama juga, air mata. air mata kata dan air mata dari suatu kata: titik air yang jatuh dari kelopak manusia. kau tak menangis, hanya bahasamu saja yang merintih pelan, yang kudengar dari rintihan jiwaku sendiri juga, jose. jose, kau dengarkah? kau di mana kini, jose?

judul puisimu adalah lamun, seperti aku yang kini melamunkan kisahmu dengan banyak arti dari lamun itu sendiri: tapi pun, iakah dia begitu? walau pun kau telah menuliskannya aku tetap juga meraba rabanya dengan tapi sebagai arti dari lamun pertama, yang kini bergerak menjadi lamun ke dua di bait dari baris baris puisimu yang menunjuntai cepat tak lagi ada jedanya. untuk apa, barangkali katamu, toh hidupku juga adalah hidup tanpa jeda. bukankah kau sedang mengarungi arah yang ganas, dan kini kau diam sejenak ke arah yang ganas yang lain. adalah sepi, sebuah keganasan hari yang kadang lebih kejam dari gelombang arah yang memental mental. sepi bisa kadang demikian mematikan, tapi kau penyair, dan kau tak mati karena sepi, sebab lihat sepi demi sepi dari ganasnya arah hari kau punguti. tekun memandangi pasir pasir dari hidup kita sendiri. kau seperti aku jose, yang memunguti sepi ke sepi juga. merekatkannya ke dalam bahasa. menjadi puisi seperti puisi sepimu yang ganas dan mematikan ini. tapi aneh: aku hidup justru dari membaca sepi seperti ini.

puisi berlatar waktu juga: malam. sepi tak kuasa berdiri sendirian, tanpa latarnya – dunia. dunia malam sebagai rumah sepi yang paling sunyi. detak jantung kita sendiri pun, dalam sepi seperti itu, seolah takut memperdengarkan suaranya. dia diam dan penuh misteri terus menerus memompakan darah ke sekujur kita. dia tak berkata tapi darah terus dialirkannya ke segenap tubuh kita, yang kelak menghabiskan darah itu ke dalam bahasa juga. bahasa sepi dari hidup yang sepi. bahasa sepi dari hidup yang penuh darah dalam diri. kau tahu, jose? ah aku yakin kau tahu apa maksudku. kita – kau dan aku, sama sama pemuja sepi dan pasti mengenal sepi dari bahasa yang tak terucapkan seperti kau yang menuliskannya dalam puisi ini. sepi hendak meminta propertinya, karena ia kini keluar dari dalam badan, tak lagi tahan berendam dalam badan. dalam diri yang seperti kata chairil: sepi memagut. (hendak masuk ke ending esai)


Hudan Hidayat

Klik untuk Puisi LAMUN

YANG DIALPHAKAN

•Juli 31, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar












dari bibir
kita pernah meneguk kecup
mengembangkan kuncup rindu
fasih berucap, gigil merasuk tandu
yang kosong dan buntu
hingga lidah itu menjelma belati

pada mata
kita meminjam pandang
yang dibias alir alur pesona
di tepian senja merona
kerling cahaya haus mengeja
di pelupuk bayangan direnggut lena

saat rasa hati
kita berkisah kenangan
atas aroma sepi, sedusedan
bibir mengaduh, mata beradu
tubuh mengucap apa yang tersimpan
dari titipan yang dialphakan

dalam kelam sehitam malam, resah sempat kita desah…




_________________
Jakarta; 01-08-2011
Josephine M

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.